Feeds RSS
Feeds RSS

Senin, 27 Februari 2017

Japantrip! (persiapan berangkat)

Halo, there!
Blogku vakum bertahun-tahun. Maapken. Berhubung baru pulang dari jalan-jalan, aku mau share nih keseruan japan trip aku bersama teman-teman.

Awalnya, sekitar satu tahun yang lalu. Tak lama dari traveling bertiga sama grup "holiholiday", aku dan Ica nemu promo tiket ke Jepang. Kita lagi gencar banget pengin liburan bertiga lagi. Setelah milih-milih, akhirnya kita memutuskan untuk beli tiket ke Jepang. Aku lupa kenapa akhirnya milih Jepang. Yang jelas kandidatnya kemarin, Thailand, Korsel dan Jepang. Gary, udah pernah menetap di Thailand sekitar 6 bulan. Ini alasan, kami mengeliminasi Thailand dari list. Entah gimana ceritanya juga, kami jadi menyebarluaskan si promo tiket murah ini. Dan bertambahlah dua orang kandidat yang "sempet-sempetnya" beli tiket di waktu promo yang singkat itu. Personil liburan kami bertambah dua orang, Ryu dan Tata. Gary juga bilang kalau ia bakal ngajak si adek. Jadi fix, kami pergi ramean.

Pertama kali pilih Jepang, aku sama sekali tak tahu menahu apapun. Jangankan mau merancang itinerary, tempat wisata dan kota-kota di Jepang pun aku tak tahu. Kebetulan, aku juga bukan "japan addict", atau "otaku" atau "cosplayer" atau apapun itu pencinta negeri sakura ini. Aku punya waktu panjang untuk merancang itinerary bersama teman-teman.

Singkatnya, sepulang dari Sulawesi, aku dan teman-teman mulai merampungkan itinerary dan segala persiapan. Oya, Gary gak jadi berangkat karena satu dan lain hal. Yang fix, aku, ica, tata dan ryu. Februari di Jepang adalah masa peralihan dari Winter ke spring. Walaupun, "katanya" salju sudah mencair, tapi suhu masih dingin. Kami jadi harus menyiapkan perkakas winter. Apalagi aku yang gak pernah ke luar negeri, gak pernah liat salju, biasa main pantai dan berjemur, yakin banget aku gak bakal tahan.

Ini beberapa hal yang kami siapkan untuk menerjang winter di Jepang:
1. Longjohn, 1-2 pasang. Barang wajib kalo pergi saat musim dingin. Untuk 5 hari, kami bawa 1-2 longjohn.
2. Legging thermal. 1-2. Ini juga sangat diperlukan. Suhu saat musim dingiin bulan februari di Jepang berkisar antara -4 sampai 9 derajat celcius. Kalau budget pas-pasan bolehlah punya satu aja, tapi kudu yang premium. Kalau punya budget lebih bisa bawa lebih. Bisa dilapis longjohn, atau kayak kami, dilapis jeans dan celana katun.
3. Coat. Yaiyalah yah. Siapa yang bakal tahan musim dingin tanpa coat? (Saya! karena suatu kebegoan coat basah dan gak bisa dipake). Kalo beli, bisa cari coat yang dalemnya isi bulu angsa, atau dakron. Jangan sampe salah beli coat. Coat winter dan autumn tuh beda!
4. Sweater. Untuk aku yang gak tahan dingin, aku bawa hampir semua atasannya berupa sweater. Mulai dari yang wool, sampe sweater heattechnya Uniqlo. Sisanya kemeja flanel, yang lumayan tebel juga.
5. Kaos kaki dan sepatu. Tadinya kami sengaja beli kaos kaki yang tebel banget. Kaos kaki khusus winter yang dijual di toko-toko winter. Tapi, seriuously, itu gak terlalu ngaruh. Cari kaos kaki tebel biasa aja, asal nyaman dipake, udah cukup. Kalau sepatu, kami beli sepatu khusus yang tahan segala kondisi, termasuk salju. Sepatu kami tahan air, dan ini sangat membantu. Dibanding sepatu gaul, yang gede dan berbulu dalemnya itu, aku lebih rekomendasiin sepatu model boots kayak pegawai tambang ini sih. Tapi tergantung keprluan juga, kami mah banyak jalan, dan medannya juga lumayan. Kalo jalannya cuma sekitaran Tokyo sih, sepatu model ankle boots juga udah cukup.
6. Gloves dan syal. Katanya sih gloves kami ini bisa touch screen, tapi kenyataannya, tetep susah juga pegang hp. Ini salah satu alasan, kami gak balesin chat. Kalo ada apa-apa langsung videocall, atau free call via Line dan Whatsapp. Syal juga perlu banget. Dicuaca dingin, syal jadi kayak pelindung ke tubuh biar angin dingin gak masuk. Yaiyalah yah. Pokoknya kudu bawa.
7. Payung. Yak, yang bawa cuma Ica. karena di ramalan cuaca, kota yang kami datangi gak ada hujan. Dan kalo pun hujan kami berencana beli di jepang aja. Tapi sungguh, ini perlu banget. Gak ada yang pasti. Bahkan ramalan cuaca Jepang yang kabarnya super akurat aja bisa salah.
8. Topi dan earmuff. Untuk yang pake jilbab sebenernya ini gak terlalu perlu banget. Aku bawa topi juga sih. Tapi Jilbab udah sangat cukup untuk melindungi dari dingin.

Total, aku membawa 1 long john, 2 legging thermal, 3 celana jegging, 5 sweater, 2 kemeja flanel, 1 coat winter, 1 coat autumn, 2 syal, 1 topi, 2 pasang kaos kaki, 1 pasang sepatu, 1 pasang sendal hangat, 7 jilbab.

Perlengkapan udah siap. Kita juga harus urus-urus berkas sebelum berangkat. Seperti yang kita ketahui bersama, masuk ke Jepang itu free visa, ASALKAN pakai e-passport. Aku belum punya passport sebelumnya, aku berniat bikin si e-passport, sayangnya e-passport tidak bisa dibikin di Palembang. Jadi aku bikin passport biasa dan harus bikin visa. Kebetulan bulan Desember aku ada keperluan di Jakarta, aku jadi bisa sekalian mengurus berkas visa ke kedutaan besar Jepang di dekat Grand Indonesia. Mengurusnya luar biasa gampang. Masukin berkas, dan tinggal tunggu beberapa hari kemudian. Bayar, lalu ambil visa. Sayangnya, pengurusan visa ke kedutaan tidak bisa diwakilkan; kecuali dengan syarat tertentu. Ica dan Tata jadi harus mengurus visa di travel agent yang ada di palembang. Pembayaran visa di kedutaan sekitar 330k saja, sementara di travel agent, Tata dan Ica kena 420k. (kalau gak salah)

Visa beres, passport beres. Berikutnya kami memesan penginapan dan kartu pass. Sebenarnya saat mengurus visa, kita  telah menyertakan penginapan yang kita tuju. Tapi setelah dipikir ulang, kami memangkas pengeluaran penginapan dan mengganti dengan penginapan lebih murah dan tiket bus. Kami memesan penginapan di booking.com dan airbnb. Lalu kami juga memesan bis malam antar kota. Tenang saja, bis malam di Jepang sangat nyaman. Kalian bisa tidur dengan nyenyak di bis semalaman. Kartu pass yang kami pilih adalah, takayama hokuriku pass. Kami udah memikirkan ini berulang kali. Dibanding JR pass atau kartu Pass yang lain, kartu hokuriku ini yang paling sesuai dengan budget kami dan paling efisien dnegan itinerary kami. Semua pemesanan yang harus bayar segera, kami pesen via online dengan credit card. Setelah luntang lantung nyari pinjeman credit card, akhirnya sesosok mas-mas datang. Kansahamnida, om sugeng.

Kemudian tukar uang. Kami sudah mencari beberapa tempat penukaran uang yang lumayan. Dibilang lumayan karena punya harga jual yang tidak terlalu tinggi. Dari beberapa tempat penukaran uang di Palembang, ada dua tempat yang aku rekomendasiin.
1. Bank Mandiri. Money changer bank Mandiri, ada di Bank Mandiri yang di sebelah bank Muamalat dan Bank Mandiri cabang cinde. Harganya lumayan banget. Tapi Bank Mandiri cuma punya pecahan 10k yen. Jadi kalau mau tuker dengan pecahan yen yang lebih kecil, tidak bisa disini.Alternatifnya, bisa tukar dengan USD.  Untuk USD juga hanya tersedia pecahan 100USD. Daripada harus bawa Rupiah, menukarkan uang ke USD jauh lebih baik.
2.Remaja  Money changer, terletak di jl. Jend.sudirman, deretan RM. Pagi sore. Kurs jualnya lebih rendah dari Bank Mandiri, sayang uang yen-nya habis. Money changer ini punya pecahan yang lebih kecil. Waktu kami kesana, hanya tersisa 1000yen. Ia juga punya USD dengan pecahan yang lebih kecil; 20k dan 50k. Lumayan buat nuker sisa rupiah ke USD.
Ini total uang yang aku bawa. Cuma empat lembar doang.

Bawa uang fisik ada untung ruginya. Untungnya, jadi gak ribet dan bisa langsung keluarin duit kalo lagi perlu, ruginya, kalo terlalu banyak malah susah kontrol diri. Bawaannya pengen belanja mulu. Atau itu cuma aku?
Jangan bingung, kalau ragu mau bawa uang banyak ke Jepang. Cukup bawa kartu ATM aja. Hampir di setiap sevel dan lawson ada ATM internasional. Bahkan kartu ATM-ku, BRI simpedes, yang bukan mastercard dan visa aja bisa narik di ATM sana. Masalah kurs dan biaya administrasinya aku gak terlalu ngitung, tapi lumayan kalau keadaan mendesak dan keabisan yen disana.

Saat berangkat, aku membawa 3 buah tas. 1 koper ukuran 20", 1 ransel, dan 1 tas kecil. Untuk budget traveler, (gak bisa bilang kita "pure backpacker"-an juga, karena gak kuat gendong ransel, jadinya bawa koper) gak usah terlalu bawa banyak barang. Aku juga bawa tas lipat cadangan, jaga-jaga kalau tas gak muat karena khilaf belanja. Usahakan 1 koper cukup untuk semua peralatan sehari-hari. Mulai dari baju dan perlengkapan lainnya. Untuk penerbangan internasional, kita gak boleh bawa cairan lebih dari 100ml. Untuk ngakalinnya kita bawa keperluan seperlunya aja. Misalnya untuk peralatan make up, aku hanya bawa tea tree set aku aja. Itu pun aku pindahin daily solutionnya ke botol yang sangat kecil. Pelembab dan BB cream di masukin ke dalam case softlens yang udah kosong. Bawa case softlens, cairan softlens seperlunya, pensil alis, lipstick dan eyeliner. Parfum juga bawa versi mini aja. Untuk perlengkapan mandi juga gitu. Odol dan sikat gigi yang jenis traveling, yang ukuran mini gitu. Sabun cuci muka di pindahin ke wadah sabun hotel yang mini juga. Sabun badan dan sampo, berharap aja disediain di penginapan. LOL.  Ransel berguna untuk masukin syal, makanan, charger, kamera, buku, pena (kita akan diminta mengisi blanko imigrasi di pesawat, jadi bawa pena sendiri aja) dan botol air minum kosong. Ingat! gak boleh bawa air lebih dari 100ml. Jadi cukup bawa botol kosong aja. Di bandara kuala lumpur ada banyak tap water buat ngisi air minum. Pun di Jepang, di bandara dan stasiun ada tap waternya. Bahkan ada yang air panas. Jadi bisa bikin popmie. Tas kecil berguna untuk tempat passport, kartu pass,wifi router, handphone dan uang. Kalau tasnya kecil banget kayak punya aku, dia masih muat nyempil di ransel. Jadi saat ribet dan mesti keluar masuk ngeliatin passport dan kartu pass, kita pake tas kecilnya. Pas keadaan aman, damai, masukin lagi tasnya ke ransel biar gak terlalu banyak tas yang ditenteng.
 Ranselnya cuma isi setengah, buat masukin tas kecil.


Dan satu lagi yang gak kalah pentingnya adalah pocket wifi. Di Indonesia, ada banyak travel agent yang nyewain pocket wifi. Di bandara Haneda juga ada penyewaan pocket wifinya. Setelah browsing, kami menjatuhkan hati pada penyewaan modem, wi2fly. Modemnya dikirim sehari sebelum berangkat dan diambil sama kurir sehari setelah berangkat. Kita tinggal tunggu di rumah aja. Iya, segampang itu. Review modemnya, ntar yah, diposting selanjutnya. Di paket modemnya, kita dikasih pinjem wifi router, kabel dan travel adapter. Colokan listrik di Jepang beda dengan Indonesia, kita jadi kudu bawa travel adapter. Karena kita berempat dan masing masing bawa gadget, kita bawa roll kabel mini yang muat buat 4 colokan. Jadi travel adapternya bakal disambung sama roll kabel, dan kami bisa ngecas bersama-sama tanpa perlu ngantri.



Keliatannya ribet yah, tapi kita nyiapin ini dengan suka cita. Jadi semuanya menyenangkan.

Rabu, 29 Januari 2014

Note note note!

So here what we did on my note !

Sabtu, 30 November 2013

Sang Angsa dan Keluarga Rubah

Seekor Angsa penunggu kolam di tengah hutan terbangun tiba-tiba di suatu subuh. Di depannya tampak sekeluarga rubah yang menangis kacau. Salah seorang dari rubah itu terluka kakinya. Si rubah yang sakit meringis kesakitan. Rubah-rubah yang lain tak tahu harus berbuat apa. Angsa adalah satu-satunya tabib di hutan itu. Angsa ingat ada tanaman di sisi selatan hutan yang bisa menyembuhkan luka si rubah. Ia mohon diri pada keluarga rubah yang masih panik. Ia terbang rendah ke luar hutan, mengambil beberapa helai daun obat dan kembali ke tempat keluarga rubah. Ia memohon izin untuk membantu si rubah malang. Beberapa keluarga rubah masih sibuk menangis bersama si rubah yang terluka. Angsa menaruh tanaman obat itu di kaki si rubah.
Selama beberapa hari, Angsa merawat si rubah yang terluka. Hingga hari ke sepuluh, si rubah sudah dapat berjalan lagi seperti semula. Keluarga rubah benar-benar bahagia. Mereka pergi setelah mengucapkan terima kasih pada sang angsa.
Baru beberapa jam keluarga rubah itu berjalan, tiba-tiba segerombolan singa datang menerkam mereka. Keluarga rubah berlari menyelamatkan diri. Sialnya, yang tertangkap adalah rubah yang kakinya baru saja sembuh. bukan karena ia berlari paling akhir, tapi karena kebetulan salah seekor singa berhasil menangkapnya. Setelah satu rubah tertangkap, Singa berhenti mengejar yang lain. Keluarga rubah kembali berduka. Dalam duka yang dalam, mereka kembali ke tengah hutan.
Di tengah jalan, keluarga rubah bertemu dengan tuan kancil. Tuan kancil yang melihat muka murung mereka akhirnya bertanya, “wahai keluarga rubah, ada apakah gerangan? Kalian tampak begitu sedih?”
“Saudara kami baru saja diterkam singa, tuan kancil”, jawab salah seekor rubah.
“Sungguh malang sekali nasibnya, jika saja ia berlari lebih cepat mungkin ia masih berada di antara kalian sekarang”, kata Tuan kancil iba.
“Iya, mungkin karena beberapa hari yang lalu kakinya terluka”
“Benarkah? Pantas saja. Aku turut berduka atas kepergian keluarga kalian”
“Tapi tuan, kakinya sudah sembuh”
“Wah, siapa yang bilang? Ia tak benar-benar sembuh kurasa. Buktinya ia tertangkap singa”
“Angsa yang bilang, tuan. Rubah, saudara kami sudah bisa berjalan seperti semula saat itu”
“hahaha, dia akan berada disini sekarang kalo dia benar-benar sembuh”, tawa Tuan Kancil.
Keluarga rubah jadi berpikir lagi. Benar juga kata Tuan Kancil. Dengan penuh amarah keluarga rubah mendatangi Angsa.
“Angsa! Dasar kau pembunuh!”, teriak keluarga rubah.
“Ada apa ini?”, tanya sang Angsa yang tiba-tiba didatangi keluarga rubah.
“Kalau saja kau tak bilang kalau rubah saudara kami sudah sembuh, dia tak akan mati sekarang”
“Apa? Dia mati. Tapi, kenapa? Dia sudah benar-benar sembuh saat itu”
“Tidak, dia diterkam singa. Gara-gara kau, angsa sialan!”, amarah mereka masih meletup-letup.
“Tapi bukankah ia diterkam singa bukan karena ia sakit?”
“kalau saja saat itu ia masih dibiarkan beristirahat disini, tentu ia masih hidup.
“Kami tak mau tau, ini semua salah anda, Angsa”
Keluarga rubah makin terbakar emosinya. Angsa yang terpojok sudah tidak didengarkan lagi. Lalu mereka beramai-ramai menerkan sang Angsa. 


Rasanya ini adalah curhat yang tak tersampaikan. Rumor yang sedang ramai beredar ini, tentu tidak bisa disamakan seperti fabel di atas, tapi setidaknya bisa mewakili perasaan kita, sesama orang awam. jadi layakkah bila keluarga angsa marah? sang angsa yang dimintai tolong, yang menolong tanpa pamrih, justru dibunuh oleh keluarga rubah. bukankah salahnya ada pada singa yang memakan saudara rubah? atau ini sudah nasib rubah yang malang? mengapa angsa yang disalahkan? 
apa yang anda lakukan bila anda salah seekor dari keluarga rubah? Apa pula yang kalian lakukan bila anda salah seekor dari keluarga Angsa? 

Minggu, 29 September 2013

Jaga Malam Pertama sebagai koas PDL

Kata beberapa orang aku koas pembawa. Aku tidak terlalu percaya dengan mitos. Tapi, kalo memang benar, matilah aku.
Malam ini, malam pertama jaga malamku di stase pdl. Jaga malam dimulai jam 2 siang sampai jam 7 pagi keesokan harinya. Setelah perkenalan koas baru ke beberapa konsulen, kami diberi pengarahan lagi oleh kakak residen. Yah, seperti biasa, aku belum sempat makan siang saat itu. Pukul 3 siang, kami, koas yang jaga dipanggil ke bagian masing-masing.
Aku baru beberapa menit saja memasuki bangsal itu, saat beberapa koas berlari-lari panik. Sekilas kulirik kamar 4. Mereka, para sejawatku sibuk dengan seorang pasien. Yang tak lama kemudian, pasien yang berusaha diselamatkan itu menghembuskan nafas terakhirnya. Yah, di awal jam jagaku.
Kemudian sampai malam, aku dan rekan jagaku disibukkan dengan segala hal. Follow up, memperbaiki dan mengganti infus, memeriksa pasien baru dan melakukan ini itu. Setidaknya ada 5 pasien baru di jam jagaku. Lelah. Tapi, aku bukankah menyukai jaga malam? Menyukai berinteraksi dengan pasien? Yah, sampai ambang batas lelahku kulampaui malam itu.
3 orang pasien yang kami follow up per jam malam itu benar-benar gawat. Aku tak mau melewatkan hal-hal kecil yang bisa membahayakan mereka. Kakiku yang lemah ini, hampir tak sanggup berdiri lagi. Pasien pertama sesak dengan darah tinggi. Pasien kedua gelisah dengan demam. Pasien ketiga, pasien yang ku follow up setiap paginya, lemah dan terus menerus merasa kesakitan. Aku dan rekan jagaku berusaha sebisa dan semampu kami membuat mereka lebih baik. Kami bisa apa?
Pukul 2 pagi, aku tertidur di meja bangsal, hanya 10 menit saja, saat anak pasien kedua memanggilku. Aku sungguh tak tahu aku berbuat apa. Saat aku benar-benar sadar, aku sudah melihat beliau lemas. Tak ada lagi geleng-geleng kepala tanda gelisahnya yang dari tadi aku dan keluarganya perhatikan. Aku panik. Benar-benar panik. Kakak-kakak residen, aku dan rekan jagaku kalang kabut. Kondisi beliau memang tidak terlalu bagus. Dari hasil follow up-ku, kakak-kakak bilang tidak ada kemajuan yang berarti. Aku bisa apa? Saat itu aku mencaci diriku sendiri. Aku menghujat diriku sendiri. Aku yang bodoh, yang tak tau bisa berbuat apa-apa. Dalam pelarianku mencari ekg paper, aku menyesal. Kenapa aku tidak berjaga di sampingnya saja? Sampai aku sadar, memang tak banyak yang bisa kami lakukan. Aku merasa hina. Aku tak sanggup berkata bahkan melihat keluarga yang hangat itu. Aku menunduk saja saat kakak residen mengabarkan bahwa beliau telah tiada.
Masih dalam masa-masa mengutuki diri sendiri dan belasungkawa yang dalam aku terduduk di meja bangsal. Beberapa pasien meminta aku mengganti infus atau sekedar memeriksa keluarga mereka. Pukul 4 dini hari. Aku kembali mem-follow up ke dua pasienku. Kondisi pasien pertama stabil. Aku melangkah ke kamar pasienku yang ketiga. Beliau sangat ramah. 2 hari ini, saat aku mem-follow-up-nya beliau selalu bercerita banyak hal. Kemarin saat sakit itu sangat menyiksa, beliau menarik tanganku. Dengan suara yang lemah dan terbata kuartikan ucapan beliau "dak enak disini, aku nak balek bae. Lebih lemak disano". Aku bisa apa selain memberi semangat padanya. Kemarin dia memakai kacamatanya untuk membaca. Tentulah beliau ini orang yang cantik kalau saja kanker itu tidak hinggap padanya.
Beliau rewel sekali subuh itu. Kata suaminya, ia berulangkali mencoba mencabut infusnya. Beberapa kali pula aku memperbaiki infusnya.
"Stop baelah dokter. Sudah dak ado ngefeknyo infus obat-obatan ini", kata suami dan ayah beliau.
Mereka sudah berulang kali ingin membawa beliau pulang, menghabiskan sisa hidupnya bersama keluarga. Kami, para tenaga kesehatan ini masih ingin berusaha memberikan kesembuhan bagi beliau.
"Jangan pak, kito kan samo-samo berusaha untuk ibuk", kataku saat mereka menyetop infus untuk beliau.
Aku mengenggam tangan beliau yang ringkih. Ia menatapku mengisyaratkan sakit yang ia rasa.
"Ibuk nurut dulu yo, aku beneri dulu selang infusnyo, jangan di geraki dulu"
"Maaf..", suaranya lirih masih menatapku.
Aku mengenggam kedua tangannya akhirnya.
"Ibuk jangan nyerah yo", senyumku saat aku meninggalkan ruangannya.
Sekitar 30 menit setelat memfollow up beliau, ayah beliau memanggilku yg saat itu sedang membenahi status.
"Dok, anak aku la meninggal, jingoklah dulu"
Aku berlari. Dengan semua harapan yang aku bawa, aku berdoa kalau bapak ini bisa jadi salah. Aku meraba nadinya. Memasang stetoskopku dan berusaha mendengar detakan halus jantungnya. Belum ada. Ku pegang tangannya. Kubuka matanya. Kakak residen, sudah berada di sampingku ternyata, menyinari matanya dengan cahaya senter. Midriasis sudah. Aku menatap kakak residen sekilas. Aku tak mau dengar kelanjutannya.
Aku keluar saat mereka menangisi beliau. Mereka yang masih ragu akan berjuang bersama kami, atau merelakan sang ibuk dan membawanya ke rumah saja. Aku menyibukkan diri. Aku tak mau melihat mereka. Aku kehabisan kata-kata.
Beberapa saat kemudian, telpon berdering dan mengabarkan seorang pasien di bangsal yang berbeda meninggal dunia. Aku mati rasa.
Saat beberapa kakak residen obgyn yang juga merawatnya datang, si bapak dan si suami mendekatiku. Dengan uraian air mata, si bapak meminta maaf untuk almarhumah, pada semua tingkah rewelnya saat akan kuperiksa, pada sikap yang mungkin menyinggung perasaanku, dan di kalimat terakhirnya ia berusaha tersenyum. Dengan senyum tipis dan air mata itu ia mengucapkan terima kasih padaku. Mataku panas. Lalu di kegelapan subuh itu, aku menitikkan air mata untuk kedua pasienku.

Selasa, 10 September 2013

Terukir di Bintang


"Sayang, bintang itu seperti apa?",tanya Aster padaku.
"Entahlah, mungkin dia seperti asteroid atau bulan. Aku bukan ahli astronomi, sayang"
"Nanti aku datangi bintang, biar aku bisa kasih tau kamu yah", senyumnya manis. Manis sekali.
"Jangan! jangan pergi ke bintang sayang", kecupku.
"Biar saja sayang. Aku ingin kesana mengukir namamu"
Lalu hingga malam itu selesai, ku dekap ia yang manis di sisiku.
***
Masih belum berhenti isakku saat ia datang. Ia adalah orang yang paling kubenci. Sudah ribuan rencana licik kupersiapkan untuk membunuhnya.Ia menambah sesak di dadaku karena kehilangan Aster. Aku yakin dia pasti ada di balik kematian Aster.
"Sudahlah kau ratapi gadis itu!", katanya kasar.
"Berhentilah meratap, bodoh! Dia sudah di bintang!", ia tertawa mengejek.
Aku diam, mengutukinya dalam hati. Aster mungkin memang sudah di bintang, mengukir namaku seperti yang ia janjikan. Tapi aku tak akan bisa rela.
"Hei!", Lelaki itu menarikku kasar.
Aku meninjunya dengan segala kekuatanku.
"Kau ini wanita gila!", ia balik menamparku.
"Memang, salah sendiri menikahiku", kataku sambil mengambil pisau di dekatnya dan menusuknya tepat di jantung.
"Sampaikan salamku, saat sampai di bintang"


Sabtu, 07 September 2013

Balon di tangan Naya

Naya duduk di samping rumahnya. Sudah lewat tengah malam, tapi ia tak juga masuk ke rumah. Bahkan lampu di rumahnya pun tak juga dihidupkan. Naya juga tak bersuara, atau menangis, atau tertawa. Mungkin Naya sedang tak ingin diganggu. Padahal kemarin petang ia masih tertawa dengan sebuah balon di tangannya. Gadis kecil dengan badan kurus itu biasanya pergi mengaji sehabis Isya, tapi ba’da isya tadi, Naya juga tak datang.  
 “Pak Nasrul!”, teriak Udin kepada Nasrul yang sedang duduk menyesap kopi di pangkalan ojek.
“Ada apa, din? Ada apa?”, Nasrul terperanjat saat namanya dipanggil.
“Atik kemarin ke rumah bapak. Mungkin bertengkar sama istri bapak. Ah, pasti bertengkar yah”
“Kenapa kasih tau sekarang?”
“Kau tak pulang lagi, rul?”, tanya Azwan, sesama tukang ojek.
“Ah, sudah mau kucerai dia!”
“Nanti saja pak. Pulang saja sekarang. Ini tentang Naya”, potong Udin.
Nasrul berlari tergopoh. Rumahnya sudah ramai saat ia tiba. Lalu, ia jatuh terduduk di dekat Naya. Naya yang memegang balon dengan kepala mendongak ke atas dan leher nyaris putus


Selasa, 02 Juli 2013

Aku dan Darah


Aku dan darah seperti sahabat. Aku tentu saja tidak berdarah setiap hari, tapi aku menyentuh darah setiap hari. Yah, aku selalu bertemu darah. Hari ini juga begitu. Lihatlah perempuan disana itu. Ia berlumuran darah. Aku menyentuhnya. Aku jadi berlumuran darah. Darah yang segar. Baunya amis. Darah-darah itu lalu menggumpal, seperti ati ayam. Jika kuhancurkan gumpalan darah itu, aku akan lebih berlumuran lagi.

Ingat dengan laki-laki paruh baya yang kecelakaan petang tadi. Dia juga. Kakinya hancur. Kau pernah melihat makanan bebek yang dihancurkan? Dilumat sedemikian rupa? Yah, begitu bentuk kakinya. Darahnya bercampur dengan daging. Benyek.

Dan tak lupa wanita muda yang berdarah tadi siang. Darahnya banyak. Keluar dari vagina. Mukanya pucat. Gumpalan darah jatuh berceceran. Entah apa yang terjadi padanya. Seorang laki-laki muda di sebelahnya tak henti menangis. Ah, mungkin ia takut darah.

Dan beberapa menit yang lalu, terjadi kecelakaan di dekat sini. Seorang gadis kecil, hancur kepalanya. Sebelah matanya juga hancur. Rambutnya lengket bersatu dengan darah dan otak. Ya, otak. Lembek bercampur darah. Hidungnya juga meneteskan darah.

Laki-laki yang kuduga ayahnya juga tampak mengerikan. Perutnya pecah. Buyar. Itu, yang tampak seperti mie ayam itu, isi perutnya. Usus, dan organ dalam bermandikan darah. Berceceran. Tangannya juga tampak hancur. Yang putih mencuat dari lengannya itu tulang. Tentu tak putih seperti jas dokter-dokter itu. Lebih berwarna merah muda, tulang berlumuran darah.

Uuh, kau pasti tak ingin melihat wanita yang kuduga ibu dari gadis itu. Kepalanya terpuntir ke belakang. Sudah jelas tulang lehernya patah. Mukanya juga tak bisa dikenali. Yah, siapa yang bisa mengenali wajah penuh darah dan kulit yang mengelupas? Mereka, para dokter itu nyaris tak melakukan apa-apa pada mereka. Orang bodoh mana yang mau menyelamatkan mayat?

Aku hanya diam mengamati. Ruangan ini penuh darah. Bau anyir jadi satu. Darah mereka-mereka semua bersatu. Bergabung menyesakkan ruangan ini. Darah-darah itu juga tak jarang datang bersama air mata. Yang lebih banyak bukan air mata sang pemilik darah, melainkan mereka yang mengatasnamakan diri mereka 'keluarga pasien'.

Aku berdiam diri di pojok ruangan bergelimangan darah ini. Tiba-tiba pintu ugd kembali terbuka.
"Kecelakaan! Kecelakaan!", teriak seseorang panik. Beberapa tenaga medis berhamburan keluar.
"Brankar! Mana brankarnya?!", teriak salah satu dari mereka tak kalah panik.
Seseorang menarikku kasar.
"Iya, ini brankarnya, dok", katanya sambil mendorongku keluar.

Jumat, 31 Mei 2013

Perkenalkan dok

"Siapa namanya?", tanya Miya padaku.
"Yang mana?"
"Nyonya dengan baju hijau yang tidur di brankar nomor tiga itu", Miya menunjuk.
"Hmm.. Julia kalo gak salah"
"Keadaannya agak aneh yah?"
Aku mengangguk.
"Sekilas mukanya familiar yah, kamu tahu, don?", lanjut Miya lagi.
"Aku gak ingat"
Aku melanjutkan perkerjaanku, melengkapi semua status pasien malam ini.
"Bisa kau panggilkan suaminya, Don?", Miya memanggilku lagi. Ia masih sibuk dengan beberapa pasien di kamar 2. Aku melangkah keluar.
"Keluarga ibu julia!', teriakku di depan ruang bersalin.
Seorang laki-laki berlari tergesa-gesa menghampiriku.
"Anda keluarga ibu julia?",tanyaku memastikan. Ia mengangguk.
Aku mengantarnya ke dalam.
"Bapak, suami ibu julia?", tanya Miya pada laki-laki itu.
"iya, benar bu. Istri saya kenapa?", ia bertanya cemas.
"Saya dokter miya pak, tadi saya sudah periksa ibu julia. Ada sedikit perdarahan dari vaginanya, akan kami obervasi lebih lanjut. Maaf sebelumnya pak, apa sebelumnya ibu julia pernah operasi pengangkatan rahim? ibu julia tidak bisa ditanya dari tadi'
Bapak itu tertunduk. Aku menatapnya dalam-dalam. Ia tidak memberi tanggapan apapun. Seperti ibu julia, dia juga tak bersuara.
"Bapak, tolong bantu kami. Kami disini buat nolong istri bapak", Miya mulai kesal. Wajar saja. Pasien tak berhenti daritadi. Pasien yang tidak kooperatif seperti ini tentu bikin mood rusak.
Aku melihat keraguan di wajah bapak itu. Sepertinya ia menyembunyikan sesuatu.
"Bapak ikut saya", kuajak dia menemui istrinya.
"Saya dokter Doni. Saya dan dokter miya yang bertanggung jawab disini. Bapak lihat kondisi istri bapak. Ibu julia sama sekali tidak ingin kami periksa. Ibu julia juga tidak mau menjawab semua pertanyaan kami. Jadi, tolong bapak bantu kami. Tolong kerja sama bapak", jelasku padanya.
Ia melihat istrinya sesaat. Ibu julia menatapnya dengan mata berkaca-kaca lalu mengangguk lemah.
"Maaf dok. Perkenalkan, saya Sutiyono. Kami pasangan homoseks. Istri saya transgender".
Aku tercengang. Tiba-tiba suara terisak terdengar dari belakangku. Miya berdiri di depan pintu meneteskan air mata. Ia berbalik ke luar. Aku ingat sesuatu sekarang. Aku berlari mengejar Miya.
"Dia..diaa.. Jun, don", Miya terisak di pundakku.
"Aku tau", kataku menenangkannya.
"Dia.. julia itu jun, don. Dia mantanku."

Rabu, 01 Mei 2013

Apa Aku Gila?



A : Kujelaskan kondisiku, autoanamnesis saja, karena tak ada yang bisa menjelaskannya untuk alloanamnesis. Begini, aku sudah merasa gila sejak belakangan ini. Yah, discriminatif insightku masih baik. Aku sadar betul, bahwa ada yang tidak beres di otakku. Ini karena dopamin, kan? Pasti terjadi peningkatan dopamin di sistem mesolimbikku, karena sudah muncul gejala positif yang aku alami. Erotomania, itu waham, kan? yah, aku rasa aku mengidapnya. Dan waham curiga, dan waham cemburu, dan thought insertion. Aku merasa, pikiranku dirasuki. Olehmu, kurasa. Dengan halusinasi auditorik tentu saja. Aku mendengar suaramu. Juga halusinasi visual, aku seperti melihatmu dimana-mana. Pun ilusi. Oh, aku sudah benar-benar gila. 
Sekarang aku jelaskan gejala negatifnya. Akhir-akhir ini pun aku jadi malas makan, tidur tak nyenyak. Mereka bilang afekku juga menumpul. Aku masih mandi, yah aku harus siap kalau tiba-tiba kau datang menemuiku kan? Dopamin di mesokortikalku mungkin menurun. 
Jangan lewatkan masalah kognitifku. Aku jadi sering melamun, tentang kamu tentu. Nilaiku jadi menurun. Daya tangkapku juga berkurang. Matilah aku. 
Jadi, apa diagnosis untuk gejalaku ini? skizofrenia kan?
B : kurasa, kau cuma jatuh cinta.

Surat Cinta Koas Mata


“Selamat pagi pemilik sepasang bola mata yang indah”, kalimat yang selalu kukatakan saat bertemu denganmu.
Kau dan semua media refraksimu membiusku. Kelima lapisan korneamu tak cukup menyaingi tebalnya lapisan cintaku padamu, pun kesepuluh lapisan retinamu.Cintaku banyak padamu, lebih banyak walau kau gabung semua cairan aquos humor dan vitreus. 
Indahnya, saat kulihat kau berakomodasi. Cahayamu jatuh tepat di depan retinaku. Membuat visusku kembali 6/6. Sekalipun aku mengalami anomali refraksi, aku tak perlu lensa sferish atau lensa cylindris untuk melihat semua keindahanmu.
Apakah aku harus di fluoresent test, agar kau tau tak ada ulkus dalam cintaku? Atau aku perlu di tonometri, agar kau tau tekanan bolamataku, yang seakan keluar saat menatap matamu? Bahkan aku rela di mydriatil berulang kali, jika saja pupil yang lebar bisa melihatmu dengan lebih jelas.
Aku rela menjadi palpebra agar bisa melindungimu. Aku juga rela menjadi kelenjar lacrimalis agar bisa selalu membasahimu dengan air mata cintaku. Tak perlu kau funduskopi aku, karena cintaku bening padamu, sebening lensa di balik irismu. 
Salam penuh kasih
Koas Mata

Rabu, 03 April 2013

2 cinta 1 hati

"aku jadi gak tenang gini deh, nad. Aku gak mungkin mutusin Dion gitu aja"
"Loh? gak masalah dong, ca. Toh, kamu juga udah gak nyaman lagi sama dia"
"Tapi dia kan baik banget nad. Aku gak punya alasan buat mutusin dia."
"Ca, jujur deh. Kamu mau mutusin Dion karena kamu juga udah jatuh cinta sama cowok temen smsan kamu itu kan?"
Aku tersenyum. Nadia benar, aku sudah jatuh cinta sama gebetan baruku. Awalnya dia yang tanpa sengaja menghubungi ke handphoneku. Dan entah bagaimana, kami jadi berkenalan. Kami jadi sering berkomunikasi via sms. Aku tidak suka di telpon. Jadi kami selalu bertanya kabar dan mengobrol via sms. Kami sangat cocok. Dan kadang dia lebih peduli daripada Dion, pacarku yang super sibuk.
"Jadi kapan kamu mau ketemuan sama cowok gebetan kamu itu? Siapa namanya? Bara?"
"Iya bara, nad. Besok siang nad, tapi aku harus mutusin Dion dulu. Aku gak tenang kalo selingkuh gini"
"Raisya, raisya. Kalo gak bisa selingkuh, jangan selingkuh dong", Nadia tersenyum geli menggodaku.
.....
"Sayang, aku gak mau putus!", kata Dion menatap mataku.
Aku jadi serba salah.
"Oke, aku tahu aku sibuk banget akhir-akhir ini. Tapi aku akan berubah. Aku akan lebih care ke kamu. Aku akan hubungi kamu sesibuk apapun kamu. Please, sayang, jangan putusin aku", Dion mengenggam jemariku dan menatapku dalam-dalam.
"Tapi.."
"Tolong sayang. Aku mohon", tatapan Dion bersungguh-sungguh. Aku bisa apa. Jauh di dalam hatiku, aku masih sayang pada laki-laki di hadapanku ini.
"Iya sayang, maafin aku yah"
"Makasih sayang..", matanya berbinar. Aku tersenyum tipis.
.....
"Jadi kamu gak jadi putus sama Dion, ca?", tanya Nadia di telpon.
"Iya nad. Dion sayang banget sama aku. Aku yang jahat, selingkuhin dia."
"Jadi sekarang gimana? Cowok gebetan kamu itu gimana?", Nadia bertanya antusias.
"Gak tau juga deh nad. Aku gak mungkin punya dua cinta dalam satu hati. Aku harus milih"
"Pilihan kamu Dion?"
"Hmmm.. Aku rasa.."
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Aku tersentak kaget.
"Bentar ya nad, aku buka pintu dulu. Ntar aku telpon lagi"
Aku berlari ke ruang tamu. Siapa yang bertamu malam-malam begini.
"Raisya sayaaang", teriak kak Raka di depan pintu. Kak Raka adalah kakakku satu-satunya yang sedang kuliah di luar kota.
"Kok pulang?", tanyaku kaget.
"Gak seneng liat kakak pulang?", senyumnya sumringah sambil memelukku.
"Kakak lagi libur? Tumben bisa pulang?", tanyaku masih penasaran.
"Ada deh", senyumnya misterius. Ia merebahkan badannya di sofa ruang tamu, sambil mengambil handphone-nya. Aku duduk bersandar padanya.
"ciee, yang punya Hp baru gak bilang-bilang"
"Hahahah, hasil kerja keras nih handphonenya", katanya masih sibuk memainkan handphonenya. Tiba-tiba handphoneku bergetar.
'jadi kan besok ketemunya?', sms dari Bara.
Kak Raka dan aku saling pandang. Tidak mungkin! aku jatuh cinta pada kakakku sendiri!

Rabu, 27 Maret 2013

Pelangi

Di atas bukit itu, kita bisa melihat pelangi dengan jelas. Aku dan murid-muridku sering kesana sehabis hujan. Pelangi seakan memberikan warna padaku, pun pada kedua belas muridku. Mereka, murid-muridku adalah anak-anak berkebutuhan khusus yang dititipkan orang tuanya. Adalah seorang gadis kecil yang baru masuk kemarin. Kedua orang tuanya adalah orang yang berada. Aku tak habis pikir,mengapa mereka menitipkan anaknya pada kami di gubuk kecil yang kami sebut rumah ceria. Gadis kecil itu bernama Nara. Umurnya sekitar 8 tahun. Matanya indah. Aku sudah jatuh cinta padanya dan matanya sejak kemarin ia dibawa, walaupun ia tak bisa melihat.
"Hujan badai seperti ini, apa mungkin masih ada pelangi?", tanya Riko yang tiba-tiba muncul di sampingku.
"Bukit itu, bukit pelangi, om. Hujan yang bagaimana pun, tetap ada pelangi disitu", jawab Tasya yang sedari tadi duduk menatap hujan. Aku tersenyum.
"Habis hujan, kita mau kesana kan bu?", tanya Mira yang susah payah menyingkirkan buku-buku di lantai agar ia dan kursi rodanya bisa mendekat padaku.
"Pasti. Kalian sudah merindukan pelangi kan?", aku balik bertanya.
"Pelangi itu apa?", suara Nara.
Aku terdiam. Nara kecil pastilah tidak tahu apa itu pelangi.
"Nah, ayo kalian semua kasih tahu Nara apa itu pelangi"
"Pelangi itu jembatan bidadali", teriak Marko masih sibuk dengan kereta mainannya.
"Pelangi itu kayak lolipop", balas Dila.
"Pelangi.. itu.. cat air.. yang.. tumpah.. dari .. langit", Darla menerjemahkan bahasa isyarat Momo.
"Pelangi itu baguus banget. Susah deh ngejelasinnya",jelas Vania.
Aku melihat seberkas senyum pada bibir manis Nara. Entah bagaimana aku harus menjelaskan pelangi padanya.
"Pokoknya kalo gak liat langsung, gak bakal tahu indahnya pelangi", sambung Dimas.
Nara menduduk. Aku jadi serba salah.
Hujan berhenti tak lama kemudian. Aku membawa murid-muridku ke puncak bukit. Mereka bermain-main di rumput yang lembab sisa hujan. Mira lebih memilih melukis di atas kursi rodanya.
"Kata mama, aku yang bunuh kakak. Jadi, mama sama papa buang aku kesini", Nara tiba-tiba duduk dan bercerita padaku.
"Sayang, kamu gak dibuang kok. Mama sama papa nitipin kamu disini, biar kamu banyak temennya"
"Kakak sama aku kecelakaan. Kakak yang meninggal, akunya gak papa. Semua jadi heran. Padahal kan kakak lebih pinter, lebih cantik", si kecil Nara terus bercerita seperti tak mendengarkanku.
"Aku pasti dibuang karena aku yang bikin kakak pergi. Aku mau naek pelangi. Kakak aku kayak bidadari cantiknya. Mungkin dia ada disana yah bu?"
Aku mendekap kepalanya, mengecupnya lembut. Aku kehabisan kata-kata.
"Kata papa kalo aja aku gak buta, aku bisa jadi pengganti kakak. Tapi kakak gak mungkin aku gantiin, kan bu? Kan kakak cantik. Kan mama lebih sayang sama kakak"
Aku menitikkan air mata. Gadis kecil ini pasti sudah melewati hari-hari yang berat.
"Bu, benar yah pelangi itu jembatan bidadari?"
"Mungkin benar sayang", senyumku.
"Kalau begitu naek pelanginya dari ujungnya yang disana itu yah?", tunjuk Nara kemudian.
Aku tersentak. Oh, tuhan. Anak ini tidak buta.

Kamis, 21 Maret 2013

putih-putih di rumah sakit

Beberapa minggu belakang, aku sibuk berjibaku di rumah sakit. Belajar banyak banget. Mengenyangkan, eh maksudnya menyenangkan. Di rumah sakit ada banyak yang pake baju putih-putih. Baju warna-warni juga banyak. Akibatnya banyak yang sering salah panggil. Nih, buat yang gak tahu arti seragam putih-putih di rumah sakit. 
 
1. Koas/ Dokter Muda

Koas singkatan dari ko-asisten. Koas ini sarjana kedokteran yang lagi menempuh pendidikan profesi buat jadi dokter. Koas punya gelar dokter muda, tapi seringkali gak dianggap. Yah, namanya juga koas. Terima ajalah yah. Masih untung gak kehilangan eksistensi di rumah sakit. 
Seragam koas di RSMH, warnanya putih, dengan kancing yang rame di sebelah kanan. Kalau dilihat sekilas, para koas mirip koki. Seragam yang kami pake pun disebut baju koki. Yasudahlah yah. Kalau lagi jaga malam, seragam kami beda lagi. Kami memakai jas yang panjangnya kurang lebih selutut. Itu seragam yang sama yang kami pakai saat kami praktikum waktu masih jadi mahasiswa pre klinik. 
tuh, kayak jas yang aku pake. 


2. Dokter umum/ Dokter residen

Dokter umum adalah sarjana kedokteran yang telah menyelesaikan pendidikan profesi. Dokter umum dapat melanjutkan studi dengan mengambil spesialis. Dokter-dokter umum yang sedang dalam pendidikan spesialis ini disebut dokter residen. Dokter umum memakai jas putih dengan lengan pendek. Sekalipun si dokter pake jilbab, lengan jas nya tetap harus pendek. 

3. Dokter Spesialis/ Konsulen
sumber dari sini

Dokter Spesialis adalah dokter umum yang sudah menjadi spesialis di bidang tertentu. Di setiap departemen punya satu spesialistik, misalnya departemen bedah, maka dokternya adalah dokter spesialis bedah, tapi spesialistik ini dapat di upgrade lagi. Misalnya jadi dokter spesialis bedah plastik. dst

4. Suster/ Perawat
Suster atau perawat umunya memakai setelan putih, yang berarti perawat akan memakai atasan dan bawahan yang sama. Sarjana keperawatan yang sedang mengambil pendidikan punya seragam sendiri. Di RSMH, seragam sarjana keperawatan UNSRI berwarna biru.

5. Satpam

Selain Dokter dan paramedis adalagi yang memakai seragam putih-putih. Tidak lain dan tidak bukan, adalah pak satpam. Tugas beliau-beliau ini juga amat penting. Menjaga keamanan dan kenyamanan rumah sakit.

Sebenarnya ada banyak seragam yang digunakan di rumah sakit. Tapi berhubung koas baru, belum terlalu paham siapa-siapa di balik seragam itu. Koas saja masih ada 2 seragam lagi. Seragam pink untuk berada di ruang operasi dan seragam abu-abu untuk mereka yang lagi di stase bedah. Seragam perawat juga banyak. Selain biru juga ada yang hijau. Belum lagi seragam cleaning service, petugas parkir, pelayan pagi sore. Lumayan banyak kalau mau ngapalin seragam yah, mending ngapalin textbook yang gak abis-abis. 

Udah gitu aja, putih-putih yang lainnya gak usah diceritain yah. :]

Rabu, 20 Maret 2013

five thousand dress



ini nih, "five thousand dress"-nya 


 mommy's old bag

and my favorite heels



keep chic and adorable for a cheap things, doesnt it?  :p

Sabtu, 23 Februari 2013

Kenyataan di Pasar Malam

Malam itu akhirnya aku memutuskan bertemu dengan June. June adalah mantan sahabatku. Sudah berulangkali ia menguhubungiku. Dia bilang ada sesuatu yang ingin dia katakan. Dia harus bertemu denganku. Dia berjanji menemuiku di bawah bianglala di pasar malam. 
Dibanding seperti dongeng, tempat ini lebih seperti mimpi buruk bagiku. Aku jadi teringat pada pacarku, Romi. Tempat ini tempat kencan favorit kami. Pun hotel di depan pasar malam ini. Mengingat semua tentangnya membuatku kembali terluka.
Sudah sekitar 2 jam dari waktu yang kami janjikan, dia tak juga datang. Aku mulai bosan.
"Maza...", suara memanggilku.
Aku menoleh. Tentu saja itu dia, June.
"Jadi apa yang ingin kau katakan? Kau sudah membuatku menunggu sangat lama"
"Aku tak tahu harus mulai darimana..",suaranya agak tersendat.
"Apa?", aku bertanya tak sabar.
"Soal yang waktu itu..", dia berkata takut-takut.
Aku menunggu kata-katanya yang keluar tersendat-sendat. Suara bising pasar malam, membuatku tak mendengar suaranya jelas.
"Ayo kita ke tempat yang lebih tenang", ajakku. June mengikutiku.
Kami tiba di cafe kecil di sudut pasar malam. 
"Jadi ceritakan padaku. Aku tak ingin bertele-tele lagi"
"Maza, kau ingat saat kecelakaan waktu itu?"
Aku termenung, mengingat kejadian setahun yang lalu. Waktu itu, aku dan teman-temanku pergi berlibur ke puncak. Mobil yang kami tumpangi tiba-tiba ditabrak dari belakang dan mobil kami terjerumus masuk ke jurang. Saat itu dalam keadaan setengah sadar dan tubuh penuh luka, aku melihat June dan Romi, pacarku. Mereka tersudut di ujung jurang. Aku menarik June yang waktu itu berada tak jauh dari tanganku. Aku berharap June juga dapat menarik Romi, tapi June diam saja. Berulang kali aku dan Romi memohon agar dia menarik Romi, tapi ia tak bergerak. Dia tak mau bukan tak bisa. Akhirnya dengan tubuh penuh luka, aku merayap menggapai Romi. Herannya, saat aku berhasil menggapai Romi, June malah menarikku. Romi yang tak bisa bertahan terjatuh ke jurang yang lebih dalam. Aku tak sanggup lagi mengingat kejadian berikutnya.
"Aku tak mau dengar tentang itu lagi", aku berdiri dan beranjak pergi. Kekesalanku kembali memuncak padanya.
"Maza.. Tunggu..", June menarik tanganku. "kau harus tahu alasanku dulu"
"Apa? Alasan apa yang membuatmu tak ingin menyelamatkan nyawa temanmu sendiri?", aku berteriak padanya. June tertunduk. 
"Aku takut kau menyentuhnya"
"Kenapa? Sudah kuduga. Kau pasti naksir dia kan? Kau pasti iri sama kami?", Kuluapkan semua kekesalanku.
"Kita terluka parah saat itu. Kita berdarah"
Aku meronta melepaskan tanganku dari gengamannya.
"kau bisa tertular"
Aku terdiam.
"Apa maksudmu?"
"Dia mengidap HIV-AIDS"
Seketika aku terdiam. Aku pasti sudah tertular.

Sabtu, 09 Februari 2013

Kekasihku dulu

Kekasihku dulu adalah orang yang periang. Dia sering menceritakan cerita-cerita lucu padaku. Aku selalu tertawa dibuatnya. Pernah suatu hari, saat aku datang padanya dengan menangis karena kehilangan kartu ATM, dia hanya memelukku, dan membiarkanku tersedu sedan. Saat aku selesai menangis, dia tersenyum dan menceritakan hal lucu padaku. Aku jadi tak peduli lagi pada kartu ATM-ku. Tentu saja setelah itu dia membantuku mengurus kartu ATM-ku yang hilang. Pokoknya dia luar biasa. Aku sangat menyayanginya.
Kekasihku itu juga seorang pekerja keras. Beberapa hari sebelum hari ulang tahunku, temannya kecurian. Dia yang baik hati meminjamkan uangnya pada temannya. Saat sadar kalau dia belum membeli kado untuk ulang tahunku, dia bekerja sambilan di sebuah toko roti. Hanya untuk kadoku saja. Bagaimana aku bisa tak mencintainya?
Sayang, itu dulu. Kekasihku sudah pergi, sudah tiada. Aku benar-benar merindukannya. Seperti hari ini, aku terus menunggu di kedai kopi tempat kami terakhir bertemu. Aku berharap bisa memeluknya seperti dulu, mendengarkan semua leluconnya seperti dulu. Aku selalu menyimpan fotonya di dompetku. Aku ingin melihatnya di setiap hariku. Aku juga menempelkan fotonya di meja di sebelah tempat tidurku. Agar aku bisa melihatnya di bangun pagiku, dan di malam sebelum tidurku. Mengingat semua tentangnya membuatku menitikkan air mata. Ah, sayangku, kenapa kau begitu cepat meninggalkanku.
"Emil!",suara yang sama yang sering kudengar.
"Siapa kau?"
"Aku pacarmu, ayo kita pulang!"
"Pacarku sudah tiada"
"Berhentilah memperlakukanku seperti aku sudah mati", bentaknya kasar.

Selasa, 05 Februari 2013

yudisium, pelantikan, wisuda, apa bedanya?

Agak tergelitik ngebahas ini karena udah berulang kali ditanya sama orang-orang di sekitar aku. Berhubung sebentar lagi melepaskan status mahasiswa pre klinik, banyak orang-orang yang sering nanya. Jadi, kali ini aku coba jawab pertanyaan-pertanyaan yang paling sering ditanyain sama aku, sepengetahuan aku aja yah.

Q: Kuliah dimana?
A: FK, di Univ.X

Q: Kapan tamat?
A: Tamat kuliah bentar lagi, tamat koas mungkin 2 tahun lagi.

Q: Kapan jadi dokter?
A: Entar kalo udah tamat koas, udah lulus UKDI.

Q: Katanya mau wisuda, kapan?
A: Wisudanya bulan mei

Q: Loh, bukannya februari?
A: Yang februari itu yudisium sama pelantikan.

Q: Apa bedanya?
A: Yudisium pengumuman doang, pelantikan itu peresmian gelarnya dari fakultas.

Q: Jadi yudisium sama pelantikan bareng?
A: Enggak. Yudisium tanggal 7, pelantikan tanggal 13.

Q: Yudisium sama pelantikan udah pake toga?
A: kagak. Yudisium baju biasa kayaknya. Pelantikan pake kebaya buat yang cewek.

Q: Dari bulan februari sampe mei ngapain? nungguin wisuda?
A: Masuk stase koas

Q: Kok koas duluan? jadi masuk koas belum wisuda?
A: Yak, betul!

Q: Koasnya berapa lama?
A: kurang lebih 2 tahun.

Q: Koas itu apa?
A: grrrrr... *ngunyah daun pepaya*

Q: Kalo udah di wisuda gelarnya apa?
A: S.Ked

Q: Apa itu?
A: Sarjana Kedokteran

Q: Emang ada?
A: *kemudian nangis di pojokan*

Q: Jadi ntar pas wisuda gelarnya bukan dr?
A: Bukaaan! Itu entar, kalo udah selesai koas. *Garuk-garuk muka yang nanya*

Q: Oke, oke. Udah ada pendamping wisuda?
A: *end chat*

Senin, 04 Februari 2013

jangan lihat aku!

Kemarin sore, aku mengalami kecelakaan kecil. Kaki kananku ditabrak, diserempet, atau apapun namanya oleh mobil putih berkecepatan tinggi. Kalau saja aku gak noleh dan liat kaki aku yang berlumuran darah dengan jari-jari yang dislokasi, aku gak akan sadar dan tetap pergi ke gramed sama adek. Yang buat aku menangis sejadi-jadinya adalah bentuk kakiku yang hancur. Padahal sebentar lagi pelantikan, aku mau beli sepatu cantik. Dengan kaki begitu, mana mungkin bisa pakai sepatu. Aku yakin pasti salah-satu jarinya patah. Bibiku yang lihat pertama kali waktu aku nyampe rumah juga bilang gitu, bikin aku tambah panik. Ditambah ayuk yang gampang panik, teriak-teriak manggil bapak yang lagi maen sama regan di depan rumah. Dan dalam sekejap, rumah dipenuhi tetangga yang datang melihat kaki hancurku. Perih. Aku gak ingin dilihat dalam kondisi kacau begini. 
Itu pertama kalinya aku merasa sakit yang luar biasa. Aku menangis berteriak minta analgesik, minta dirontgen, minta dibius. Kacau. Aku gak pernah sekacau itu. Gak pernah juga nangis sekenceng itu. Habislah imageku di mata semua tetanggaku. AKu betul-betul tampak seperti makhluk lemah. Aku tidak suka. Beberapa tetangga manggil tukang urut. Sore itu, dalam hitungan menit saja sudah ad 2 tukang urut yang datang ke rumah. Tukang urut yang pertama datang, takut ada bagian yang patah, dan lagi darahnya masih mengalir. Akhirnya datang satu orang lagi. Rasanya luaaaar biasaa sakiiiit. Ayuk dan mama bergantian memelukku. Bapak dan beberapa tetangga memegangi kakiku yang meronta-ronta. 
Selesai perkara urut mengurut. Kakiku bengkak, biru dan gak cantik. Tara yang memang berjanji menginap malam itu datang. Masih banyak hal yang harus kami urus, untuk daftar pelantikan dan wisuda, jadi mau tak mau aku harus pergi. Aku gak suka merepotkan sebenarnya, tapi seharian ini aku terus-terusan merepotkan tara. Dan yang aling aku gak suka, tatapan orang-orang.
Pertama saat aku di Indralaya. Saat masuk perpustakaan untuk menyerahkan skripsi, aku berjalan dengan tertatih dan sedikit pincang menaiki tangga. Dua orang bapak-bapak berkomentar di belakangku. Melihatku kasihan dan bilang hati-hati padaku. Mereka bersimpati. Aku terima, tapi tak suka. Mereka seperti melihatku kasihan.
Lalu sepulangnya, aku diturunkan Tara di kost tara untuk beristirahat dulu. Tara memang malaikat. Aku tau tara sangat peduli, tapi aku tak mau merepotkan. Dan aku tak suka apa yang aku lakukan tadi. Kelihatan lemah. 
Saat makan siang tadi juga begitu. Baru beberapa langkah aku mask restoran, orang-orang langsung melihat aku. Melihat kakiku. Ada yang salah dengan orang pincang? Aku tak suka pandangan itu. Jangan kasihani aku! Aku jadi berpikir, jangan-jangan selama ini aku juga sering memperhatikan orang-orang dengan kekurangan fisik di dekatku. Aku jadi mengerti perasaan mereka. Maaf yah. Aku jadi banyak belajar. Terima kasih, ya Allah. :) 

Sabtu, 02 Februari 2013

Puisi-puisi masa muda

Lagi sibuk-sibuknya ngebongkar isi lappy kemarin malah nemu folder puisi-puisi jadul. Lucu, gak jelas maksudnya apa. Tersiratnya agak parah. Nih salah satunya yang paling panjang. Ini puisi atau cerpen? LOL!


Bunga
aku adalah bunga
baru saja kemarin aku mekar
aku hidup
menghirup udara yang segar
menikmati setiap inchi pemandangan di hadapanku
aku begitu bahagia
semua yang ada membuatku bahagia
juga sahabatku, si kupu-kupu
kemarin ia masih seekor ulat gendut dan bertotol
ia menghabiskan semua daunku
dia rakus sekali
tapi aku tahu dia butuh itu
aku rela memberinya seluruh daunku
kini  ia telah menjadi kupu-kupu yang cantik
aku juga cantik
karena aku adalah bunga

ini hari yang indah
aku bisa melihat seluruh taman dari sini
ini tempat yang paling tepat untuk menikmatinya
sahabatku kupu-kupu menghampiriku
menanyakan hariku
dan kubuka kelopakku
memberinya hadiah untuk semua perhatiannya
ia tersenyum dan perlahan menghirup nektarku
aku bahagia
saat berbagi dengannya aku bahagia
ia terbang lagi
kutatap sayapnya yang indah
dan kembali memandangi taman yang indah ini
kupu-kupu kembali lagi
membawakanku segudang cerita
mengabarkanku tentang kelahiran laba-laba di kamar 346
menyampaikan padaku tentang kecelakaan di jalan flamboyan
menceritakan kisah cinta Romi dan Julie di sekolah
memberitahukanku tentang penerimaan mahasiswa
semuanya
aku bahagia mendengar semuanya
aku bahagia
kupu-kupu pergi lagi
dan berjanji akan membawakanku cerita lagi
aku melambai padanya
aku tetap disini
di taman ini
karena aku adalah bunga

biar aku tak bisa terbang aku masih bisa bahagia
ada banyak hal yang masih bisa kulakukan
memandangi taman
berfotosintesis
dan...
apalagi?
mungkin aku lupa
tapi aku bahagia
seekor kumbang yang tampan terbang rendah
aku tersenyum
hanya tersenyum
ia menghampiriku
wajahnya tampan dan membuatku nyaman
ia memuji kecantikan setiap kelopakku
wajahku bersemu merah
perlahan kubuka kelopakku
tak salah jika kuberi ia sedikit maduku
ia tersenyum
manis, manis sekali
ku persilahkan ia menghisap nektarku
aku rela dan aku bahagia
aku merasa tenang
tapi perlahan aku merasa aneh
kumbang tak berhenti menghisap maduku
apa yang akan kuberikan pada kupu-kupu jika ia kembali nanti?
aku tak kuasa menolak kumbang
ia tak berhenti
perlahan kututup kelopakku
gerakanku lemah nektarku habis
ia menatapku marah
aku tak berdaya
tubuhku lemas
ia pergi meninggalkanku
aku ingin mengejarnya dan memberitahunya apa yang terjadi
tapi aku tak bisa
karena aku adalah bunga

aku tak lagi bisa menikmati pemandangan
pikiranku kalut
aku takut
takut jika nanti kupu-kupu datang dan tak ada yang bisa kuberikan untuknya
aku bingung
bingung bagaimana menjelaskan pada kumbang
aku rela maduku habis
tapi aku tak rela mereka pergi
aku cemas
semuanya begitu gelap
mengapa aku tak bisa terbang bebas
seperti kumbang dan kupu-kupu
aku juga ingin menyaksikan setiap kejadian
aku juga ingin bermain-main di udara
aku juga ingin merasakan manisnya maduku
aku juga ingin pergi dari sini
seperti kumbang dan kupu-kupu
tapi aku tak bisa dan tak akan pernah bisa
karena aku adalah bunga

masih dalam kegelisahanku
kupu-kupu datang menghampiriku
ia tersenyum padaku
aku terlalu lemah untuk membalas senyumnya
ia mulai bercerita padaku
untuk pertama kalinya aku tak ingin mendengarkan ceritanya
ia tetap saja bersemangat bercerita
aku tak ingin membuatnya kecewa
kudengarkan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya
ia tampak bahagia
ia tampak begitu cantik
ia punya apa yang tak kupunya
ia punya sepasang sayap yang begitu indah
tapi aku tidak
ia menatapku
aku membuka kelopakku
yang kutahu tak ada lagi madu di dalamnya
ia menatapku kecewa
dan pergi meninggalkanku
aku tak bisa mengejarnya
aku tak bisa
aku tak bisa menjadi seperti dirinya
aku tak bisa
sekalipun air mataku terus menetes berharap ia mengerti
sekalipun aku menjerit ingin bebas
sekalipun aku menarik seluruh akarku untuk mengejarnya
aku tak bisa
aku tak bisa
karena aku adalah bunga

aku terima segala kekuranganku
aku mencoba tersenyum
mungkin untuk yang terakhir
dahanku tak mampu lagi menopangku
kelopakku berkerut
warnanya tak lagi cerah
aku layu
benar-benar layu
tanpa kutahu rasanya
aku telah hilang
hilang di tangan jahil yang mencabikku dengan kasar
menjawab segala asaku
kini aku bukan bunga
aku tak lagi cantik
aku tak lebih dari seonggok sampah
terkapar tak berdaya dan akan berakhir di tanah
masih samar ku buka sedikit mataku
kumbang dan kupu-kupu menari diatasku
tersenyum
tersenyum padaku
berusaha menyapaku
maaf
aku bukan bunga lagi

hello februari!

Hello, feb!
Hows ur day? is evrything ok? mine, not really good. :')

Boneka kucing bilang, "gak bagus banyak mengeluh. Gak bagus juga banyak menyesal. Lebih baik lihat ke depan, kalau di depan masih belum jelas, lihat ke sekeliling". Aku suka kata-katanya. 
Jadi di awal februari yang sibuk ini, aku sudah menyelesaikan sesuatu yang kusebut skripsweet. yang sebulan kemarin ku panggil skripshit, yang ku sapa skripsi di 2 bulan sebelumnya. Aku sudah bisa dengan bangga menyebut diriku mahasiswa dong yah? Bukan mahasiswa namanya kalau belum ngerasain bikin skripsi. Apalagi dengan perjuangan yang lumayan menguras tenaga, uang jajan, waktu kencan, pikiran dan mental.Untung semuanya berakhir. Penantian panjang banget kayaknya. Yahsudahlah perkara skripsi, perkara pelantikan dan toga, aku sudah muak bosan. 
Sudah beberapa malam ini gak bertemu boneka kucingku yang bijaksana, jadi malam ini aku mengobrol sedikit dengannya tentang februari. Percakapan singkat kami yang biasa sebelum tidur.
"Bagaimana januari ini kamu habiskan?", tanya si kucing yang bermalas-malasn di sebelahku.
"Luar biasa. Semuanya begitu berharga. Pelajaran-pelajaran yang tak terlupakan. Yah, aku juga sedikit lelah"
"Kapan terakhir kali kau tidur normal?"
"Normal menurutmu, normal menurutku atau normal menurut mereka?"
"Menurutku normal itu tidur 8 jam sehari, mungkin menurut mereka juga sama"
"Hmm, normal menurutku, 4 jam tidur pagi, 3 jam tidur siang"
"Katakan menurutku saja", kata boneka kucingku yang kesal aku permainkan. Jarang aku bisa mempermainkannya seperti ini.
"Kalau begitu sekitar 2 bulan yang lalu, sebelum mulai penelitian"
"Kau lelah?"
"Tidak, hanya punggung yang sakit karena tidur di sofa beberapa hari ini"
"Januarimu luar biasa, soal yang kemarin kau katakan di awal januari, aku ingin..."
"Bisakah kita bicarakan tentang februari sekarang?", aku malas berdebat tentang hal yang itu-itu saja.
"Baiklah, apa yang akan kau lakukan februari ini?"
"Yudisium, pelantikan, masuk stase..."
"Resolusimu?"
"Klise. Menjadi lebih baik dari sebelumnya"
"Mau saran?"
"Tidak sekarang. Tanya aku lagi"
"Apa yang ingin kau capai?"
"Klise. Semua yang belum aku capai"
"Termasuk yang itu? Soal melupakan orang yang tak ingin dilupakan yang telah melupakan tapi tak bisa lupa?"
"Mungkin. Semakin ingin dilupakan jadi semakin ingat"
"Benar. Sulit!"
"Hentikan bicara soal januari, ini tentanga februari. Dan berhenti membuatku jadi susah lupa"
"Mau saran sekarang?"
"Kalau ini tentang februariku, ya!"
"Oke. Kusarankan.. Kau gunakan kunci yang kemarin aku berikan"
Aku tersenyum. Selalu kalah dengan omong kosong dari boneka kucingku ini.
"Bagaimana jadinya februariku nanti?", aku berkata menerwang.
"Seperti yang kau pikirkan", bisiknya.