Feeds RSS
Feeds RSS

Selasa, 08 Januari 2013

Dia

Aku mulai mencintainya sejak umurku 8 tahun. Dia tak seperti lawan jenisku yang lain. Dia adalah pangeran berkuda putih dan aku sebagai putrinya. Aku tahu ia juga menyukaiku. Dia sering memberiku hadiah dan begitu perhatian padaku.
"Sayang, kapan kamu mau pergi liburan?", tanyanya padaku.
"Segera setelah acara perpisahan di sekolah", jawabku pada pria idamanku itu.
"Semua sudah selesai kau urus kan sayang?"

"Semua"
"Baguslah, kamu memang gadisku yang mandiri"

Apa kubilang. Ia selalu perhatian padaku.
"Aku ingin ditemani liburan ini"
"Bukankah kau bersama teman-temanmu, sayang?"
"Iya, tapi rasanya masih ada yang kurang"
"kamu mau mengajak, Dio, pacarmu?"
Dia memang tidak peka, sejak dulu. 
"Dio bukan pacarku. Dia hanya teman."
"Oke, oke. Lalu siapa yang ingin kau ajak liburan, sayang?"
Dia sungguh tidak peka. Aku lelah membuatnya mengerti perasaanku. Aku bersender di bahunya. Begitu damai rasanya.
"Nandaaa....", suara ibu memanggilku.
"Sayang, ibumu memanggil"
"Aku masih ingin disini"
"Mungkin ibumu membutuhkanmu"
"Dia akan datang kemari, kalau ia butuh", sahutku masih menempel di bahunya.
Benar saja. Ibu segera menghampiri kami.
"Ada apa sayang?", kata Ayah tiriku itu pada ibu.

Minggu, 06 Januari 2013

perkara toga!

Aku sedang dirundung kemalasan akhir-akhir ini. Alasannya jelas karena skripsi yang sudah di deadline harus selesai BESOK. Perkara toga ini riweh saudara-saudara! Mesti kuliah dulu, nilai mesti bagus, bikin proposal, ngerjain penelitian, dan merangkumnya dalam sebuah tugas akhir yang disebut SKRIPSI. Kadang suka nanya sendiri, kenapa mesti sesulit itu, tapi kalo ngebayangin nanti terjun di masyarakat dan gak bisa apa-apa. Hmm.. kayaknya aku masih perlu belajar banyak. 

Dan gak asik rasanya ngerjain skripsi kalo gak sambil denger musik. nah lagu yang lagi seliweran di playlist ku beberapa hari ini adalah kumpulan lagu-lagunya bang epping, yah selain lagu galaunya secondhand serenade dan maroon 5.

Ini salah satu favoritku.

Bukan Toga

bukan maksud hatiku 
untuk menjadi seorang macan kampus yang tak kunjung lulus
bukan mksd hatiku 
untuk membuatmu malu dengan kondisi pendidikanku 
mohon trimalah aku 
apa adanya aku 
jangan tanyakan kuliahku
hanya rasa cintaku berikan 
untukmu sepanjang hidupku

semoga kau bisa mengerti 
arti rasa cinta yg tulus dari hatiku
bukan ijazah atau toga 
hanya hati yang kuandalkan untuk mencintamu

kumohonkan sabarmu untuk nantikan ku 
wisuda insya allah bulan tiga
dan tak usah kecewa 
bila ternyata nanti malah jadinya bulan sembilan
makanya trimalah aku 
apadanya aku
jangan tanyakan kuliahku
hanya rasa cinta yang kuberikan 
untukmu sepanjng hidupku


smoga kau bisa mengerti 
arti rasa cinta yg tulus dari hatiku
bukan ijazah atau toga 
hanya cinta yang kuandalkan untuk mencintamu


semoga kau bisa menngerti
bukan ijazah atau toga
bukan itu yang akan mncintaimu
smoga kau bisa mengerti rasa cinta dari hatiku

bukan ijazah atau bukan toga 
bukan itu untuk mencintai dirimu
semoga kau bisa mengerti
bukan ijazah atau toga, bukan itu bukan itu...


Ngena banget liriknya. Yah, buat para single sih maknanya biasa aja. eh, lupa. aku kan juga single :p
Nih, satu lagi yang masuk playlist wajib akhir-akhir ini.

SKed dulu

kutatap fotomu di balik sampul orji-ku 
betapa indah dunia kulihat lewat matamu
menatap wajahmu 
sudah menjadi hobiku
matamu melayangkan alam bawah sadarku
biar kunikmati rinduku biarku nikmati rinduku
biarkan aku terbang bersama mimpi

indah kurasa membayangkan kau menjadi milikku
walau ku harus Sked dulu
akan indah dunia bilaku bisa menjadi milikmu
walau untuk itu kuharus Sked dulu

Penasaran sama lagunya? Nih, download disini
Doakan bisa sidang minggu ini yah :D 


Sabtu, 05 Januari 2013

Hari ini tahun-tahun lalu..


Hari ini 3 tahun yang lalu...
Aku berdiri di depan rak kumpulan buku favoritku. Aku sedang berada di toko buku kecil tak jauh dari rumahku. Hari ini cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan rintik turun dari tadi. Aku masih sibuk berkutat dengan kumpulan novel-novel komedi. Toko kecil ini sepi pengunjung. Karena hujan gerimis ini, kurasa.
Dari jendela kaca toko buku, aku melihat seorang gadis berlari kecil ke arah toko buku. Ia menggenggam erat tumpukan buku di tangannya. Ia masuk ke toko buku dengan tergesa-gesa.
“Kakaaak..”, sapanya pada kasir seklaigus penjaga toko buku kecil itu.
Aku rasa ia juga pelanggan tetap di sini, tapi aku tak pernah melihatnya sebelum ini.
“Hei, lama gak kesini”, penjaga toko buku itu membalasnya ramah.
“Sibuk kuliah kak. Buku pesananku sudah datang?”, tanyanya.
“Belum. Buku terbitan lama susah dicari”, jawab si penjaga toko. Aku melihatnya dari tempat ku berdiri. Tak bergerak. Sekali lagi aku mengamatinya, wajahnya tampak sangat familiar.
“Yaaah, buku baru dimana kak?”, tanyanya dengan nada setengah kecewa.
“Disana. Banyak novel yang baru terbit minggu ini”, jelas penjaga toko menunjuk ke arahku.
Entah kenapa aku gugup. Ia berjalan mendekatiku. Aku berusaha fokus pada buku di hadapanku.
“kamu..”, suaranya lembut tepat di depanku.
“Ya?”, kataku berusaha menatap matanya.
“Yoan kan? Aku Dila. Ingat? Teman SMP?”, tanyanya ceria.
“Hmm, ya. Aku ingat”, kataku ragu. Bodohnya aku. Tentu saja wajahnya sangat familiar di ingatanku.
“Lama gak ketemu yah”, katanya sambil menjabat tanganku hangat.


Hari ini 2 tahun yang lalu...
“Aku suka kamu”
“Aku juga suka kamu, Yoan. Kita kan teman.”
“Lebih dari teman,Dil. Kamu mau jadi pacarku?”
“Hmm.. “
“Dil?”
“Dila rasa Dila mau”, balasnya pada chatbox kami. Aku tersenyum.
“Tunggu aku di teras rumahmu sekarang”, balasku.
Aku tidak ingin jadi pecundang. Aku ingin meneriakkan, bahwa aku benar-benar ingin ia jadi pacarku. Aku ingin meneriakkannya di hadapannya sekarang. Aku menuju rumahnya. Rumah ia, gadisku.
“Dilaaa..”, aku memanggil namanya.
Ia keluar dari pintu rumahnya. Tersenyum.
“Aku..”
“Dila juga sayang kamu, sayang”, katanya memotong kata-kataku. Aku membeku dalam bahagia.


Hari ini setahun yang lalu...
“Mestinya ini jadi hari 1 tahun hubungan kita”, kataku padanya.
“Aku tahu”
“Memangnya kamu ingat?”
“Aku ingat”
“Apa lagi yang kamu ingat?”
“Selalu begini, kamu mau ngebahas kenapa kita putusan kemarin-kemarin kan? Kamu mau nyalahin aku lagi kan?”
“Bukan gitu, sayang. Aku kan cuma nanya.”
Suara di ujung telpon tak kudengar.
“halo, sayang.. “
“Iya”, katanya ketus.
“Aku sayang kamu”, kubisikkan padanya.
“Dila juga”, balasnya datar.


Hari ini...
“Kamu udah makan sayang?”, tanya gadis manis di sebelahku.
“Udah, sayang. Kamu udah makan belum?”, aku balik bertanya.
“beluum, temenin makan”, katanya manja.
Kami berjalan memasuki salah satu restoran di mall. Sembari memesan dan menunggu makanan kami datang, ia bercerita panjang lebar. Sesekali ia bermanja padaku.
“Mbak..”, sebuah suara yang kukenal datang dari kursi belakang. Aku menoleh penuh ragu.
Wajah yang aku kenal.
“Makanan saya yang tadi belum datang. Jangan lupa gak pake bawang goreng yah”, pesan wanita itu
Entah mengapa aku harap ia tak melihatku. Aku kembali berbalik. Gadisku masih bermanja di sampingku. Tak lama, makanan kami datang. Perasaanku jadi tak enak. Gadisku ini tentu tak tahu kalau ia, wanita yang duduk di belakang kami, adalah mantanku. Aku gelisah. Dan sebuah perasaan aneh membuatku ingin berpaling ke belakang, pada wanita itu.
“Yoan..”, sapa suara itu.
Aku menoleh pada suara itu. Aku melepaskan genggaman gadisku dengan refleks. Seberkas senyum mekar di wajah wanita itu. Aku jadi salah tingkah.
“Dila duluan yah”, senyumnya sambil berlalu pergi. 

Jumat, 04 Januari 2013

happy new year !

Telat banget kalo baru ngucapin 'selamat tahun baru sekarang', tapi lebih baik daripada gak sama sekali. Sama kayak aku yang udah ngungkapin perasaan aku ke kamu walaupun udah telat sama sekali. Yah, kayaknya bukan aku kalo gak curcol yah, apa boleh buat. 
Jadi, malam tahun baru kemarin, aku menghabiskan detik-detik terakhir di 2012 bersama sahabat-sahabat terbaikku. Malamnya, sekitar jam 9 malam, aku dijemput ryu terus kami langsung ke cafe tempat kami janjian. Karena rame banget, akhirnya kami dapat tempat duduk di teras atas. Dan ternyata di cafe yang kami datangi malam itu lagi ada acara spesial tahun baru. Ada banyak doorprise yang dibagiin untuk semua pengunjung. Sementara asyik ngobrol, dan pesan makanan, kakak-kakak pelayannya memberikan kami masing-masing 1 nomor undian. Yang pertama datang malam itu adalah ayah, dan bunda vita. Lalu kakak adik, laura dan sarah dan teman koas ku tercinta, tara. Lalu aku dan 'my girlfriend' ryu. Agak malam, barulah nyonya beruang, lora, datang. 
Di cafe favorit kami itu ada live music. Dari teras atas kami hanya bisa mendengar suara nyanyian orang-orang di bawah, sesekali tante pemandu acara mengajak pengunjung cafe bernyanyi bersama. Bahkan ada yang menyatakan cinta malam itu. Luar biasa. Setelah mendekati pergantian tahun, tante pemandu acara membacakan nomor-nomor yang menang doorprise. Ya, kami hampir menang semua. Orang pertama yang beruntung adalah ayah. Ayah adalah pacar bunda vita. Ayah dapat mug spesial dari cafe. Lalu sarah, adik laura, yang ternyata hadiahnya zonk. Lalu aku memenangkan beruang teddy kecil dari BNI. Kemudian Tara dan laura mendapatkan terompet tahun baru dan tempat tisu. Bunda juga dapat, dia dapat dompet belanja warna hitam. Kami berisik sekali, mungkin karena itu, kami gak denger waktu si tante menyebut nomor Ryu. Poor honey ku :*
Dan yang paling hebat, setelah semua hadiah-hadiah kecil dibagikan, maka akan diumumkan pemenang doorprise utama. Hadiah utamanya menginap di hotel bintang lima dan menikmati semua fasilitasnya selama sehari semalam. dan tentu saja kami menang lagi. Muahahaha. Itu nomor undian punya ayah, tapi beliau sudah dengan ikhlas menyerahkannya pada kami (mungkin). 
Oya, masing-masing kami juga di kasih topi santa, dan bando rusa. Gratis! Wow, kami memilih tempat yang tepat untuk pesta tahun baru ini. menjelang detik-detik pergantian tahun, lampu di cafe dimatikan, terus kami bersama-sama mengucapkan permohonan untuk tahun yang baru ini. Beruntung kami ada di teras atas. Kami bisa melihat langit yang penuh kembang api. Ah, andai saja kamu disana saat itu. Aku ingin menikmati kembang api bersamamu. Oke, fokus lagi. Karena lampu di teras atas merangkap kipas angin, setelah kepanasan, kami menghidupkannya kembali. Oya, di teras atas bukan hanya ada kami. Tapi kami tentu saja menguasai teras atas. Maaf yah om-om dan tante-tante yang risih dengan kegaduhan kami. 
Setelah semua acara selesai, kami turun ke bawah. Tante pemilik cafe benar-benar ramah. Beliau meminta kami berfoto dulu sebelum pulang. Kakak-kakak pelayannya juga sudah familiar dengan wajah kami yang datang setiap kamis selama 2 bulan penuh karena diskon 50%. Tempat ini menyenangkan, makanannya juga enak.
Pulangnya, mungkin sekitar jam 1, aku, ryu, lora dan tara msih berkeliling sebentar. Dan akhirnya kami menuju tempat karaoke. Sekedar memuaskan hasrat karena tadi tidak puas menjerit di cafe. tapi ternyata harga sewa karaokenya naik sampai berkali-kali lipat. Sungguh! Malam itu ruangan small saja harganya 118rb per jam! Kami mengurungkan niat. Sebenernya aku sih yang gak rela karena harganya naek tinggi. Akhirnya kami nongkrong lagi di toko donat, membahas SKRIPSI. Sudah kubilang, bayang-bayang skripsi itu sama kayak bayang-bayang mantan, susah ilang! Setelah beberapa donat, kami pulang. tentu saja aku bercanda. Kami mengantar lora dulu, terus mengantar Tara untuk mengambil barang-barang karena tara mau menginap, lalu mengucapkan selamat tahun baru pada Samuel, adik tara, barulah kami pulang. Super duper capek, Super duper nyenengin! Makasih sudah mengisi tahun 2012ku dengan segalanya, teman. Tahun ini lagi yah ! 
And these are our outfit that night :) Enjoy!



lora-dui-ryu-laura-sarah-tara-vita-pacarvita

Kamis, 03 Januari 2013

FF: untitled

"Jadi sayang, kapan kamu bilang sama pacarmu kalo kita balikan?", aku menyerbunya dengan pertanyaan yang sama.
"Nanti sayang, kan aku sudah bilang, gak mungkin aku mutusin dia sekarang.", dia beralasan. Alasan yang kudengar berkali-kali.
"Aku gak mau jadi simpanan. Kamu itu dari dulu punya aku. Dia itu yang datang tiba-tiba.", aku mulai kesal.
"Kamu yang mutusin aku", katanya singkat.
"Terus kenapa kamu jadian sama dia? Kamu bilang masih sayang sama aku", aku berkata setengah berteriak.
"Aku gak salah dong. Aku diputusin kamu, terus dia datang, terus kita jadian", jelasnya.
"Kamu gak sayang aku lagi?", kali ini aku menatap matanya.
"Sayang, kamu kan yang bilang cewek punya perasaan..."
"Kamu tuh yah! Sengaja gak mau mutusin pacar kamu, sengaja biar aku sakit hati, ya kan?", aku meninggalkannya kesal. Ia berlari kecil menangkap tanganku.
"Sayang, kamu bilang kamu gak bakal egois lagi. Tunggu sampe aku ketemu waktu yang pas", ia menatapku dalam. Aku bisa membaca keseriusan di matanya.
"Sampai minggu ini!", bisikku.
"Apa?"
"Kalau kamu nggak mutusin dia, kita aja putus lagi", kulepaskan tanganku dari genggamannya.
"Aku pulang duluan", aku melangkah meninggalkannya.
Ia masih berdiri di sana, melihatku dari kejauhan sampai aku lihat seorang wanita mendekatinya. Pacarnya tentu saja. Aku kembali berjalan ke arahnnya. Ia tampak gugup. Aku duduk di bangku di sebelah mereka.
"Sayang, aku kira kamu masih di luar kota", kata perempuan itu terdengar menjijikkan di telingaku.
"Aku sudah pulang semalam. Maaf belum kasih kabar", ia berkata dengan gugup.
"Gak papa sayang. Kamu lagi apa disini?", tanya perempuan itu lagi sambil menggandeng tangannya. Aku panas.
"Aku cuma lagi jalan-jalan", jawabnya seadanya.
"Baguslah, aku juga sayang. Hei, kau bau rokok sayang", kata perempuan itu saat ia menempelkan kepalanya di bahu lelakiku.
Bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau ia habis merokok? Rasanya aku ingin mencubit pipinya dan memeriksa semua kantongnya. Tentu saja untuk membuang rokok yang tersisa. Aku tidak suka ia merokok.
"Ah, iya. Sebatang saja", katanya sekilas melirik ke arahku.
"Gak papa, kamu lagi latian berhenti merokok kan sayang?"
"Eh, iya"
"Dan lihat rambutmu sayang. Sudah berantakan"
"Kau ingin aku merapikannya?", tanyanya seolah berkata padaku.
"Hahaha, tentu tidak sayang. Aku mencintaimu apa adanya"
Klise. Aku mulai risih, tapi tak mau beranjak jauh-jauh dari mereka.
"Oh, ya. Soal acara ulang tahunku, aku mau kamu datang. Aku mau kenalkan pacarku yang luar biasa ini pada teman-temanku", katanya lagi.
"Tentu"
"Dan hari minggu besok, kau boleh datang ke rumahku sayang. Aku akan memasak untukmu", katanya manja.
"Ke rumahmu? tak apa? Aku harus bagaimana?"
"hahahha, tentu sayang, jadilah dirimu sendiri"
Aku diam. Aku tak sanggup menoleh ke arah mereka lagi. Aku tahu kenapa ia kesulitan sekarang. Aku jadi merasa hina. Aku yang selalu egois. Aku yang suka mengatur semua hidupnya. Aku belum berubah. Kali ini aku akan menyerah saja. Aku tersenyum dan bangkit dari tempat dudukku.
"Sayang, kita putus saja. Kau sudah bersama orang yang tepat", kukirim pesan singkat padanya.

Rabu, 02 Januari 2013

FF: siapa kamu?

Aku berlari menuruni tangga hotel. Aku sedang dalam perjalanan bisnis sekarang. Aku pasti terlambat sampai di kantor utama.  Sekarang pukul 8 pagi, lobi hotel masih terlihat sepi. Beberapa pegawai hotel tersenyum padaku.
"oh, tidak", seruku. Taksi yang kupesan ternyata belum tiba. Aku menunggu dengan gusar.
"Melani?", seseorang menyapaku dari belakang.
Aku menoleh. Lelaki itu memakai setelan jas dengan sebuah koper di tangan kanannya.
"Aku rindu", katanya sambil memelukku. Seorang pegawai hotel melihat kami. Aku segera melepaskan pelukannya.
"Kau tahu, betapa aku sangat merindukanmu?"
Aku hanya diam.
"Aku mencarimu selama ini. Aku membatalkan pernikahanku"
Laki-laki itu menarik tanganku untuk duduk di sofa. Entah kenapa, aku menurut saja.
"Aku tahu hanya kamu yang terbaik buat aku. Aku hanya menginginkanmu. Sekarang, saat ini juga, aku akan melamarmu. Aku tak akan mengulang kesalahan yang sama"
Lelaki itu mengeluarkan kotak merah kecil dari dalam kopernya.
"Aku selalu membawa ini. Aku selalu berharap dapat bertemu denganmu lagi, melaniku sayang"
Ia menyentuh jemariku lembut. Ia membuka kotak merah kecil itu. Sebuah cincin dengan permata merah di atasnya.
"Maaf.."
Aku menarik tanganku.
"Siapa kamu?"
Lelaki itu tampak begitu kaget.
"Aku.. Aku Yoan. Aku tunanganmu, melani sayang"
"Kau mungkin salah orang, tuan. Permisi.", kataku bergegas pergi.
Aku berjalan menuju taksiku yang baru saja tiba. Aku menoleh sekali pada laki-laki itu, dan menutup pintu taksi.
"Aku sudah susah payah melupakanmu, dan kau kembali datang begitu saja. Sembarangan!", omelku dalam hati.

Interview tentang Hati


A friend of mine ever asked me, "why are you still single?"
And I told him, "I've been falling in love with someone for a long time. And, I don't think we could be together, and when I have brave enough to face it with him, he left me"
And he said: "why don't you open your heart to other guy?"
"I don't brave enough"
"then, you must brave enough to take him back or forget him"
"I will," I said.


Temanku bertanya,"Apa yang membuatmu begitu menginginkannya?"
Aku hanya tersenyum dan berkata,"Alasannya sama seperti saat kau begitu menginginkan air saat kau haus"
Ia tertawa dan balik bertanya lagi,"Kalau aku haus, aku tidak akan pilih-pilih air untukku minum"
Aku berpikir sejenak. 
"Tapi hanya dia yang tampak seperti air saat aku kehausan"

"Apa yang akan kau lakukan untuk airmu?", dia bertanya lagi.
"Aku..Aku akan mendapatkannya"
"Kau optimis dan pesimis di satu waktu. Bagaimana cara kau mendapatkannya?"
"Aku..Aku tidak tahu caranya, tapi itu terdengar masuk akal, maka aku akan mendapatkannya."
"Apa yang sudah kau lakukan?
"Aku.. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya berharap aku mendapatkannya. Aku.. Aku hanya takut."
"Apa yang kau takutkan?"
"Kau tahu. Saat kita sangat ingin menggenggam air, tak ada yang akan kita dapatkan."
"Air-mu itu mungkin sudah pergi jauh, tapi hujan akan membawanya kembali"
"Sekarang hujan."
"Dan mungkin dia akan kembali"
Aku tersenyum dengan harapan.

"Mengapa kau begitu sedih?", tanyanya di lain waktu.
"Aku menyerah saja"
"Kenapa? Airmu tak kunjung datang?"
"Iya, mungkin sudah diminum orang lain"
"Kusarankan kau untuk mencoba jus, susu, teh atau kopi"

Kali ini aku yang bertanya pada temanku yang bijaksana.
"Apakah aku masih boleh menunggu?"
"Ya, jika kemungkinannya masih ada, dan tidak jika kemungkinannya 0%..."
"Aku rasa kemungkinannya masih ada sedikit"
"Dan jika menunggu itu tidak membuatmu sakit.."
"aku tidak sakit."
"Kau sudah cukup berani ternyata"
"iya, menunggu tidak sakit, tapi melihat airku di botol air minum orang lain, sakit"
Temanku tersenyum.
"Aku akan buatkan teh hangat untukmu", katanya lagi.

Aku dan temanku minum teh sambil menikmati hujan. Ia bertanya lagi.
"Orang yang kemarin, kenapa kau tak suka?"
"Aku tak bilang tak suka. Aku cuma tak menginginkannya. Seperti aku tidak suka minum air soda"
"Kenapa?"
"Hanya tidak cocok denganku"
"Kalau kau sangat haus kau mau meminumnya?"
"Mungkin. Tapi aku tetap saja tidak suka. Seperti saat aku harus minum obat."

"Satu pertanyaan terakhir", kata temanku yang cerewet itu.
"Apapun"
"Saat air yang kau inginkan, yang sekarang ada di dalam botol air minum orang lain, terjatuh dan tumpah ke tanah, apa yang akan kau lakukan?"
"hmmm.. agak sulit kalau ia diibaratkan air karena mungkin ia akan cepat meresap ke tanah atau mungkin akan tercampur dengan debu. tapi aku akan tetap berusaha mendapatkannya kembali dan memastikan ia masuk ke dalam botol air minumku"
"ibaratkan ia sebagai manusia"
"hahaha", aku tertawa. "Aku akan datang padanya, mengobati lukanya dari rasa dicampakkan, membersihkan dia dari bekas orang lain yang pernah memilikinya, dan berjanji tidak akan meninggalkannya"
"Terdengar cukup berani. Tetaplah bermimpi boneka kecil"
"Tidak, aku akan melakukannya. Kau saja yang bermimpi boneka kucingku sayang", senyumku sambil memeluknya.