Feeds RSS
Feeds RSS

Senin, 28 Januari 2013

curhat boneka kucing

"Kenapa kau akhir-akhir ini?", tanya boneka kucing kesayanganku.
"Aku baik-baik saja", jawabku yang masih sibuk dengan tugas kantorku.
"Jangan bilang ini masalah dia lagi! Aku tak kuasa, jika kau terus-terusan bersedih seperti ini"
"Sungguh, aku hanya kelelahan. Banyak yang harus kuurus akhir-akhir ini"
"Kamu butuh bantuanku?"
"Kamu sudah banyak membantu. Terimakasih sudah menjagaku saat aku terlelap"
"Apa lagi yang kamu butuhkan?"
"Aku tidak butuh apa-apa, sekarang"
"Kalau pertanyaannya ku ganti, Siapa yang kau butuhkan sekarang?"
Aku diam. Dia ini benar-benar cerewet. Dia selalu suka mendebatku dengan hal-hal remeh temeh macam ini.
"Aku tidak sedang butuh siapa-siapa"
"Kau yakin?", dia mendekat menggodaku.
"Ah, sudahlah. Semuanya sedang sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Dia juga tak pernah lagi mengharapkan aku. AKu bisa apa? Tak ada yang bisa aku perbuat selain berpegang pada diriku sendiri"
"Terbuka!", dia berteriak.
"Apa?", tanyaku penasaran.
"Kotak pandoramu. Katakan semuanya. AKu sedang menjadi telinga"
Aku menghela nafas panjang. Aku kalah lagi.
"Dia, orang yang dari tadi kau ingin agar aku ucapkan, tidak kuharapkan lagi. Persetan dengan air, dan mimpi, dan harapan dan apapun yang aku bilang kemarin-kemarin"
"Kenapa?"
"Dia tak pernah ada. Lihat aku sekarang. Aku dalam masa-masa beratku, dia tak ada. Semalam aku kehujanan, harus menginap di UGD, atau menjaga orang sakit sampai pagi, dia tak ada. Aku belajar setengah mati untuk hari terpenting dalam proses belajarku, dia tak ada. Kenapa aku berharap pada orang yang tak pernah sama sekali peduli padaku lagi?"
"Kau memberi tahunya?"
"Apa?"
"Semua masalahmu, hari-hari burukmu, suasana hatimu"
"Tidak sama sekali"
"Apa yang bisa dilakukan seseorang yang tidak mengetahui masalah untuk menyelesaikan masalah?"
Aku diam. Aku salah lagi. Dia memang pintar bicara.
"Kau, apakah kau hadir dalam hari-hari terburuknya? membantu menyelesaikan masalahnya?"
"Tidak. Tidak lagi sekarang"
"Alasan yang sama, bukan?"
Aku termenung sejenak. Aku kalah pintar dari boneka kucing kudel ini. Aku tersenyum kecil, takut dia melihat senyumku.
"Aku sibuk, masih harus bekerja"
"jadi, apa arti semua ini?"
"Apa?"
"Apa yang akan kau lakukan? Apa yang dapat kau ambil? Masih kah kau..."
"Aku tahu!", kupotong kalimatnya. "Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan. Aku terlalu bodoh untuk bertahan di kondisi yang merugikanku, bukan?"
"Tidak. Kau hanya tidak memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada dan hanya berharap pada..."
"Cukup!", aku memotong kata-katanya lagi.
"Berapa banyak orang yang tidak kau perhatikan akhir-akhir ini? Berapa banyak pesan yang keluar dari handphonemu? Berapa banyak chat ramah yang kau 'end chat'? Berapa banyak orang yang berhenti kau hiraukan?"
"Aku hanya sibuk", kataku lemas.
"Tidak, kamu hanya menutup hatimu untuk ruangan kosong yang ditinggalkan pemiliknya"
"kau benar", aku menitikkan air mata.
"Ini!", dia memperlihatkan telapak tangannya padaku.
"Apa?"
"Kunci"
"Untuk apa?"
"Untuk membuka hatimu"
Aku menggenggam tangan berbulu lembut itu.
"Terima kasih", bisikku.

Kamis, 24 Januari 2013

Skripsi

Debu di perpusatkaan tua ini menyesakkanku. Aku sudah berjam-jam duduk di tumpukan skripsi-skripsi lama ini. Beberapa skripsi sudah kusisihkan untuk kujadikan referensi menulis. Aku membuka skripsi terakhir yang belum kubaca di atas meja perpustakaan. Judulnya cukup menarik. Metode penelitian yang digunakannya juga sama seperti skripsiku yang masih belum rampung. Aku memutuskan untuk meminjam skripsi yang terakhir ini saja.
Setiba di rumah, aku langsung membaca lagi skripsi itu dengan seksama. Dari dalam kamar kudengar pintu rumahku dibuka. Itu pasti Kakek. Aku tinggal bersama kakek dan nenek dari sebelah ibu. Ayahku sudah meninggal, dan ibu masih dirawat karena gangguan kejiwaan yang dideritanya sejak aku lahir. Dari kecil, aku tak pernah melihat wajah ayahku. Namanya pun aku tak tahu. Kakek selalu manyuruhku menuliskan namanya pada kolom nama ayah, setiap kali aku harus mengisi form riwayat hidup. Aku menurut saja. Kakek dan nenek sangat membenci ayahku. Sampai aku sudah sebesar ini pun mereka tak pernah menceritakan apapun tentang ayah padaku. Dan tak mungkin aku bertanya pada ibu.
"Skripsimu sudah selesai?", tanya kakek saat aku keluar kamar.
"Sedikit lagi"
"Nanti mau jadi spesialis apa?"
"Belum kepikiran, kek"
"Jangan karena ibumu gila kamu ambil spesialis penyakit jiwa"
"Aku masih belum tahu, kek. Mau selesaiin skripsi dulu. Dokter umum aja masih jauh", aku kembali masuk ke kamarku. Sudah ke sekian kalinya, kakek memintaku untuk tidak mengambil bagian kesehatan jiwa. 
Aku kembali berkutat dengan skripsiku. Penulisan metode dan hasil penelitian di skripsi yang aku pinjam ini benar-benar bagus. Aku jadi sangat terbantu. Rasanya, setelah aku mengumpulkan semua sampel penelitian aku bisa menyelesaikan bab IV dan V dengan cepat kalau begini. Penyusun skripsi ini pastilah mahasiswa yang cerdas. Kubuka skripsi ini dari depan lagi. Kubaca namanya baik-baik. Dosen pembimbing yang membimbingnya pun aku kenal. Salah satu dosen senior di fakultasku. Kata-katanya pada lembar persembahan juga indah. Selain cerdas, ia juga orang yang puitis. 
"untuk yang kusayangi, Donita Resaya, terima kasih untuk setiap kata penyemangat yang kau lontarkan dari mulut indahmu"
Oh, tidak. Itu kan nama ibu. Mungkin dia mantan pacar ibu atau..
"dan tentu saja motivasi yang besar dari ksatria kecil kita di rahim nyamanmu yang sebentar lagi akan melihat dunia. Ramiro Mardav, nama yang kita sepakati untuk calon pemimpin masa depan kita nanti, terima kasih nak"
Namaku tertulis jelas di sana.



Inspirasiku


Aku adalah seorang penulis. Hampir semua karyaku kutulis di restoran ini. Entah sudah berapa kali aku nongkrong di restoran cepat saji ini. Semua inspirasiku seakan tumbuh subur saat aku berada disini. Sore ini hujan turun, aku kembali duduk bersama notebook-ku. Anehnya tak ada satu kisah pun yang terbayang dalam otakku. Sudah beberapa kali aku memesan segelas soda pada pelayan restoran. Perutku hampir kembung tapi tak satu kata pun yang kutulis.
Aku terus memandang jendela, berharap ada sesuatu yang bisa menjadi inspirasiku. Dari jendela kaca restoran ini, aku bisa melihat sesosok anak kecil yang berlari di tengah hujan. Aku jadi ingat sesuatu. Saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu hujan, aku berteduh di sudut restoran cepat saji ini. Ada seorang anak laki-laki seumuranku, yang juga berteduh di sana. Selama kami menunggu ia tak henti-hentinya bersajak memuji hujan. Ia seperti berbicara pada langit. Ia seakan tak sadar bahwa aku sedang berdiri di sampingnya. Sajaknya begitu indah. Aku jadi terhanyut pada setiap kata-katanya. 
"Nah, hujan. Kita bertemu lain kali lagi", ia berkata menghadap langit saat hujan mulai reda.
Aku tersadar dari buaian kata-kata indahnya tentang hujan. Saat itu pula aku menyukai hujan dan dia. 
Ah, kenapa tak kutulis sesuatu tentang anak itu saja, pikirku. Aku mulai mengkhayal. kembali ke masa laluku. Mencoba mengingat-ingat kejadian waktu itu.
"Hujan..", seseorang dari sudut luar restoran berkata dengan lantang. Membuyarkan semua lamunanku.
"Kita berjumpa pada kali yang lain. Pada masa yang berbeda. Pada wajah yang berbeda. Pada suasana yang berbeda. Tapi pada rasa yang sama", laki-laki itu berkata menghadap langit.
Aku bergegas keluar. Aku mengenali laki-laki ini.
"Hujan yang berbeda, bukan hujan yang sama. Salah lagi", lanjutnya.
Aku berdiri di sampingnya. Mengamatinya dengan takjub. Kurasa ia tak menyadari kehadiranku.
"Kau kah itu?"
Aku kaget. Apakah ia benar-benar berbicara padaku tapi ia tak sedikit pun menoleh padaku. 
"Kau kah hujan?"
Untung tak kujawab. Tentu saja ia berkata pada hujan bukan padaku.
"Ah, tentu saja hujan yang sama. Aku tau bau hujanku. Taukah bahwa aku begitu merindukanmu, hujan?"
Aku diam dan terus mendengarkan sajaknya.
"Ah, benar. Aku seenaknya saja. Maafkan aku, hujan"
Entah mengapa aku merasa ia berkata padaku.
"Aku kehilangan arah. Sulit menemukan tempat ini. Aku seenaknya saja. Berbicara tentangmu, menyukaimu, menjadikanmu inspirasiku dan menamaimu hujan"
Aku terhenyak. Apakah ia baru saja berbicara padaku. Matanya masih menghadap ke langit.
"Maaf hujan. Aku sudah seenaknya. Hujan sudah reda. Biar waktu yang temukan aku dan hujan di lain kali"
Ia menarik tali di tangannya yang baru kusadari ada seekor anjing yang terikat di tali itu. Aku mulai sadar, laki-laki ini buta. 
"Hujan, aku akan coba mengingat restoran cepat saji ini, agar aku bisa bertemu hujan", ujarnya melangkah pergi.
"Ame!", teriakku.
"Ya? Kaukah yang berkata, hujan?"
"Namaku ame"
Ia tersenyum. Manis. 

Jumat, 18 Januari 2013

gadisku pergi

Aku duduk termenung di bangku taman di dekat rumahku. Tempat biasanya aku bertemu dengan gadisku. Kemarin ia pergi meninggalkanku. Aku tahu sejak awal hubungan kami ditentang orang tuanya. Aku tak peduli pada orang tuaku yang juga menentang, yang aku tahu, aku sudah terlanjur mencintainya. Percakapan perpisahan kami kemarin masih terekam jelas di kepalaku.
"Maaf, aku rasa aku mencintai orang lain", katanya sore kemarin dengan wajah tertunduk. 
Aku hanya terdiam lemah mendengar pengakuannya. Aku tahu cepat atau lambat kami akan berpisah. Dia sudah terlalu sering menentang ke dua orang tuanya hanya demi aku. Kalau saja alasannya bukan karena ia mencintai orang lain, aku akan membawanya pergi jauh-jauh. Berdua saja.
"Siapa?", tanyaku setelahh mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang tadi melemah.
"Laki-laki yang dijodohkan ayah sama ibu"
Aku bisa apa. Aku hanya memandangi punggungnya yang mulai menjauh dariku. Yang mungkin tak akan kulihat lagi.
Aku menatap pepohonan dari tempat aku duduk. Pepohonan yang sama seperti kemarin, tapi dengan suasana yang berbeda. Seorang laki-laki memasuki taman dan duduk di sampingku.
"Jadi, sekarang kamu mau nerima aku jadi pacar kamu?", tanya laki-laki itu padaku.
Ah, mungkin sudah saatnya aku kembali normal.


Minggu, 13 Januari 2013

Hujan

Kupandangi wajah pacarku yang sedang tertidur. Ia tampak sangat lelah. Mungkin sudah setengah jam ia tertidur. Hujan di luar membuat suasana yang pas untuk tidur. Pacarku orang yang hebat. Ia bilang tidak boleh menyetir saat ngantuk. Dan disanalah dia, tertidur di balik setir mobil.
Aku hanya bermain-main dengan pajangan kucing di dasboard mobilnya sambil mengawasi hujan yang masih turun lebat. Dari jauh, aku melihat seorang lelaki tua berjalan di tengah hujan. Ia basah kuyup. Aku benar-benar kasihan padanya. Aku mencari payung di jok belakang dan keluar mobil untuk memberikan salah satu payung kami padanya. 
Kudekati ia perlahan. Ia tersentak menyadari aku yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Kakek, butuh payung? Ini untuk kakek saja", aku memanyunginya sambi menyerahkan payung lipat padanya. 
"Kamu siapa?"
Aku sampai lupa memperkenalkan diri. Aku seperti orang asing yang datang tiba-tiba, tentu saja dia heran.
"Aku Mita, kek. Kebetulan lewat sini, dan aku bawa 2 payung. Ini untuk kakek saja"
"Terimakasih", ia mengambil payung di tanganku dan duduk di bangku tak jauh dari mobil pacarku.
Entah mengapa, aku jadi berjalan mengikutinya. Tubuh ringkihnya gemetar. Aku jadi kasihan. 
"Aku harus menunggu di sini. Istriku sebentar lagi pulang. Rumah kami jauh di belakang, sekarang mulai gelap, dia pasti susah melihat", laki-laki tua itu berkata sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Aku yang bodoh ini, tidak tahu kalau hujan akan turun. Istriku bisa sakit kalau ia kehujanan. Ia tidak boleh sakit"
"Aku bisa memberikanmu payungku ini, kek. Mobil merah itu punya pacarku. Aku bisa pulang tanpa kehujanan, jadi aku tidak membutuhkan payung ini"
"Tidak, aku sudah berhutang satu payung padamu. Satu sudah cukup"
Aku diam. Rasanya tak tega meninggalkan laki-laki tua ini mengigil kedinginan. 
"Itu istriku", laki-laki tua itu berdiri dari bangku dan berjalan menghampiri seorang wanita tua yang baru turun dari angkot. Ia memeluk istrinya erat. Aku terenyuh.
"terimakasih payungnya", Ia dan istrinya tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan senyuman. Aku terus melihat mereka. Setelah mereka sampai di ujung jalan, aku baru sadar, laki-laki tua itu hanya memayungi istrinya dan ia tetap basah kuyup. 
Aku kembali ke mobil. Pacarku terbangun. Ia mengucek-ngucek matanya dan menatapku. 
"Kamu basah kuyup?",katanya setengah bertanya. Aku mengangguk saja.
"kamu gak boleh sakit", ia melepaskan jaketnya dan memakaikannya padaku. 
"Kamu seperti kakek", tawaku. Pacarku bingung. 

Sabtu, 12 Januari 2013

Hari itu, aku..

Hari itu, aku sangat kelelahan. Sehabis lembur di kantor, kubuka ponselku yang dari tadi siang tak kusentuh sama sekali. Beberapa sms, dan bbm di sana. Hanya broadcast dan bbm dari seorang teman yang menanyakan perihal reuni. Kubuka kotak masuk yang sudah kuduga darimu. Aku begitu lelah, bahkan untuk membalas semuamu.
Hari itu, aku belanja ke mall sendirian. Aku ingin mengganti sepatuku yang mulai mengelupas. Sudah beberapa toko, tapi tak kutemukan yang aku inginkan. Akhirnya aku hanya berkeliling. Aku tiba di sebuah toko souvenir. Sebuah asbak kecil memikatku. Aku ingat kamu. Aku membelinya tanpa pikir panjang, kebetulan ulang tahunmu sebentar lagi.
Hari itu, aku sedang membereskan kamarku. Tumpukan kertas dan majalah menggunung. Di sudut rak buku, aku menemukan kotak kado kecil. Kado yang tak pernah aku berikan tanpa alasan yang jelas. Aku tau apa isinya. Dan aku tau kado kecil ini untuk siapa. Kamu.
Hari itu, aku menemani temanku mencari kado untuk ayahnya. Kami berkeliling dan tak menemukan kado yang tepat. Akhirnya kami pulang dan beristirahat di kamarku. Ia menemukan kado kecilku, kado kecil untukmu yang tak pernah aku berikan. Ia menanyakan isinya dan memintaku untuk memberikannya padanya.  Aku mengiyakan saja.
Hari itu, hari ulang tahunku. Beberapa sahabatku memberikan kejutan untukku. Orang tua dan adikku juga. Membahagiakan. Tapi aku meras tak lengkap. Dengan semua kado dan ucapan ini, aku merasa kurang. Kurang ucapan dari mu. Ya. kamu.
Hari itu, aku berkeliling mall sendiri lagi. Yah, aku memang suka berkeliling sendiri. Aku ingat, sekitar setahun yang lalu aku masuk ke toko ini. Aku melihat jejeran souvenir di toko itu. Tanpa kusadari, aku mencari sesuatu. Asbak yang tahun lalu aku beli, sudah tak ada. 
Hari itu, aku benar-benar lelah. Aku menjatuhkan tubuhku di kasur dan terlelap. Dalam mimpiku, aku sedang mengetik laporan kerjaku. Ponselku berbunyi. Sms-sms darimu. Entah mengapa aku menjadi sangat gembira. Aku membalas smsmu. Sampai saat aku bangun, aku sibuk mencari ponselku yang masih kutaruh di tas. Tak ada pesan sama sekali.
Hari itu, aku menyadari. Setahun ini, aku bahkan tak melupakanmu. Aku selalu ingat. Aku sudah memutuskan. Aku mau belajar dan membangunnya kembali. Jadi, kukirim pesan singkat padamu dengan malu-malu. Berharap. 
Hari itu, aku lembur sampai tengah malam. Aku menyelesaikan tugas kantorku di rumah. Sesekali kulirik jam di dinding kamarku. Aku jadi ingat kamu. Kenyataan memang tak selalu bagus untuk diketahui semuanya. Mungkin kalau aku tak tahu kalau kau begitu. Aku akan terima-terima saja. Kukirimkan pesanku lagi padamu, masih berlinangan. 
Bagaimana mungkin kamu  bilang ini tiba-tiba?

Selasa, 08 Januari 2013

taylor lautner :)

Kemaren pas lagi demen2nya twilight, jadi ngefans sama abang yang satu ini.
Sekarang sih tetep setia dulu sama abang darren. Jadi, waktu les corel, bikinnya abng ini deh :)
Walaupun gak mirip-mirip banget, tapi waktu nyelesain gmbar ini, rasanya seneng banget :)