Feeds RSS
Feeds RSS

Senin, 27 Februari 2017

Japantrip! (persiapan berangkat)

Halo, there!
Blogku vakum bertahun-tahun. Maapken. Berhubung baru pulang dari jalan-jalan, aku mau share nih keseruan japan trip aku bersama teman-teman.

Awalnya, sekitar satu tahun yang lalu. Tak lama dari traveling bertiga sama grup "holiholiday", aku dan Ica nemu promo tiket ke Jepang. Kita lagi gencar banget pengin liburan bertiga lagi. Setelah milih-milih, akhirnya kita memutuskan untuk beli tiket ke Jepang. Aku lupa kenapa akhirnya milih Jepang. Yang jelas kandidatnya kemarin, Thailand, Korsel dan Jepang. Gary, udah pernah menetap di Thailand sekitar 6 bulan. Ini alasan, kami mengeliminasi Thailand dari list. Entah gimana ceritanya juga, kami jadi menyebarluaskan si promo tiket murah ini. Dan bertambahlah dua orang kandidat yang "sempet-sempetnya" beli tiket di waktu promo yang singkat itu. Personil liburan kami bertambah dua orang, Ryu dan Tata. Gary juga bilang kalau ia bakal ngajak si adek. Jadi fix, kami pergi ramean.

Pertama kali pilih Jepang, aku sama sekali tak tahu menahu apapun. Jangankan mau merancang itinerary, tempat wisata dan kota-kota di Jepang pun aku tak tahu. Kebetulan, aku juga bukan "japan addict", atau "otaku" atau "cosplayer" atau apapun itu pencinta negeri sakura ini. Aku punya waktu panjang untuk merancang itinerary bersama teman-teman.

Singkatnya, sepulang dari Sulawesi, aku dan teman-teman mulai merampungkan itinerary dan segala persiapan. Oya, Gary gak jadi berangkat karena satu dan lain hal. Yang fix, aku, ica, tata dan ryu. Februari di Jepang adalah masa peralihan dari Winter ke spring. Walaupun, "katanya" salju sudah mencair, tapi suhu masih dingin. Kami jadi harus menyiapkan perkakas winter. Apalagi aku yang gak pernah ke luar negeri, gak pernah liat salju, biasa main pantai dan berjemur, yakin banget aku gak bakal tahan.

Ini beberapa hal yang kami siapkan untuk menerjang winter di Jepang:
1. Longjohn, 1-2 pasang. Barang wajib kalo pergi saat musim dingin. Untuk 5 hari, kami bawa 1-2 longjohn.
2. Legging thermal. 1-2. Ini juga sangat diperlukan. Suhu saat musim dingiin bulan februari di Jepang berkisar antara -4 sampai 9 derajat celcius. Kalau budget pas-pasan bolehlah punya satu aja, tapi kudu yang premium. Kalau punya budget lebih bisa bawa lebih. Bisa dilapis longjohn, atau kayak kami, dilapis jeans dan celana katun.
3. Coat. Yaiyalah yah. Siapa yang bakal tahan musim dingin tanpa coat? (Saya! karena suatu kebegoan coat basah dan gak bisa dipake). Kalo beli, bisa cari coat yang dalemnya isi bulu angsa, atau dakron. Jangan sampe salah beli coat. Coat winter dan autumn tuh beda!
4. Sweater. Untuk aku yang gak tahan dingin, aku bawa hampir semua atasannya berupa sweater. Mulai dari yang wool, sampe sweater heattechnya Uniqlo. Sisanya kemeja flanel, yang lumayan tebel juga.
5. Kaos kaki dan sepatu. Tadinya kami sengaja beli kaos kaki yang tebel banget. Kaos kaki khusus winter yang dijual di toko-toko winter. Tapi, seriuously, itu gak terlalu ngaruh. Cari kaos kaki tebel biasa aja, asal nyaman dipake, udah cukup. Kalau sepatu, kami beli sepatu khusus yang tahan segala kondisi, termasuk salju. Sepatu kami tahan air, dan ini sangat membantu. Dibanding sepatu gaul, yang gede dan berbulu dalemnya itu, aku lebih rekomendasiin sepatu model boots kayak pegawai tambang ini sih. Tapi tergantung keprluan juga, kami mah banyak jalan, dan medannya juga lumayan. Kalo jalannya cuma sekitaran Tokyo sih, sepatu model ankle boots juga udah cukup.
6. Gloves dan syal. Katanya sih gloves kami ini bisa touch screen, tapi kenyataannya, tetep susah juga pegang hp. Ini salah satu alasan, kami gak balesin chat. Kalo ada apa-apa langsung videocall, atau free call via Line dan Whatsapp. Syal juga perlu banget. Dicuaca dingin, syal jadi kayak pelindung ke tubuh biar angin dingin gak masuk. Yaiyalah yah. Pokoknya kudu bawa.
7. Payung. Yak, yang bawa cuma Ica. karena di ramalan cuaca, kota yang kami datangi gak ada hujan. Dan kalo pun hujan kami berencana beli di jepang aja. Tapi sungguh, ini perlu banget. Gak ada yang pasti. Bahkan ramalan cuaca Jepang yang kabarnya super akurat aja bisa salah.
8. Topi dan earmuff. Untuk yang pake jilbab sebenernya ini gak terlalu perlu banget. Aku bawa topi juga sih. Tapi Jilbab udah sangat cukup untuk melindungi dari dingin.

Total, aku membawa 1 long john, 2 legging thermal, 3 celana jegging, 5 sweater, 2 kemeja flanel, 1 coat winter, 1 coat autumn, 2 syal, 1 topi, 2 pasang kaos kaki, 1 pasang sepatu, 1 pasang sendal hangat, 7 jilbab.

Perlengkapan udah siap. Kita juga harus urus-urus berkas sebelum berangkat. Seperti yang kita ketahui bersama, masuk ke Jepang itu free visa, ASALKAN pakai e-passport. Aku belum punya passport sebelumnya, aku berniat bikin si e-passport, sayangnya e-passport tidak bisa dibikin di Palembang. Jadi aku bikin passport biasa dan harus bikin visa. Kebetulan bulan Desember aku ada keperluan di Jakarta, aku jadi bisa sekalian mengurus berkas visa ke kedutaan besar Jepang di dekat Grand Indonesia. Mengurusnya luar biasa gampang. Masukin berkas, dan tinggal tunggu beberapa hari kemudian. Bayar, lalu ambil visa. Sayangnya, pengurusan visa ke kedutaan tidak bisa diwakilkan; kecuali dengan syarat tertentu. Ica dan Tata jadi harus mengurus visa di travel agent yang ada di palembang. Pembayaran visa di kedutaan sekitar 330k saja, sementara di travel agent, Tata dan Ica kena 420k. (kalau gak salah)

Visa beres, passport beres. Berikutnya kami memesan penginapan dan kartu pass. Sebenarnya saat mengurus visa, kita  telah menyertakan penginapan yang kita tuju. Tapi setelah dipikir ulang, kami memangkas pengeluaran penginapan dan mengganti dengan penginapan lebih murah dan tiket bus. Kami memesan penginapan di booking.com dan airbnb. Lalu kami juga memesan bis malam antar kota. Tenang saja, bis malam di Jepang sangat nyaman. Kalian bisa tidur dengan nyenyak di bis semalaman. Kartu pass yang kami pilih adalah, takayama hokuriku pass. Kami udah memikirkan ini berulang kali. Dibanding JR pass atau kartu Pass yang lain, kartu hokuriku ini yang paling sesuai dengan budget kami dan paling efisien dnegan itinerary kami. Semua pemesanan yang harus bayar segera, kami pesen via online dengan credit card. Setelah luntang lantung nyari pinjeman credit card, akhirnya sesosok mas-mas datang. Kansahamnida, om sugeng.

Kemudian tukar uang. Kami sudah mencari beberapa tempat penukaran uang yang lumayan. Dibilang lumayan karena punya harga jual yang tidak terlalu tinggi. Dari beberapa tempat penukaran uang di Palembang, ada dua tempat yang aku rekomendasiin.
1. Bank Mandiri. Money changer bank Mandiri, ada di Bank Mandiri yang di sebelah bank Muamalat dan Bank Mandiri cabang cinde. Harganya lumayan banget. Tapi Bank Mandiri cuma punya pecahan 10k yen. Jadi kalau mau tuker dengan pecahan yen yang lebih kecil, tidak bisa disini.Alternatifnya, bisa tukar dengan USD.  Untuk USD juga hanya tersedia pecahan 100USD. Daripada harus bawa Rupiah, menukarkan uang ke USD jauh lebih baik.
2.Remaja  Money changer, terletak di jl. Jend.sudirman, deretan RM. Pagi sore. Kurs jualnya lebih rendah dari Bank Mandiri, sayang uang yen-nya habis. Money changer ini punya pecahan yang lebih kecil. Waktu kami kesana, hanya tersisa 1000yen. Ia juga punya USD dengan pecahan yang lebih kecil; 20k dan 50k. Lumayan buat nuker sisa rupiah ke USD.
Ini total uang yang aku bawa. Cuma empat lembar doang.

Bawa uang fisik ada untung ruginya. Untungnya, jadi gak ribet dan bisa langsung keluarin duit kalo lagi perlu, ruginya, kalo terlalu banyak malah susah kontrol diri. Bawaannya pengen belanja mulu. Atau itu cuma aku?
Jangan bingung, kalau ragu mau bawa uang banyak ke Jepang. Cukup bawa kartu ATM aja. Hampir di setiap sevel dan lawson ada ATM internasional. Bahkan kartu ATM-ku, BRI simpedes, yang bukan mastercard dan visa aja bisa narik di ATM sana. Masalah kurs dan biaya administrasinya aku gak terlalu ngitung, tapi lumayan kalau keadaan mendesak dan keabisan yen disana.

Saat berangkat, aku membawa 3 buah tas. 1 koper ukuran 20", 1 ransel, dan 1 tas kecil. Untuk budget traveler, (gak bisa bilang kita "pure backpacker"-an juga, karena gak kuat gendong ransel, jadinya bawa koper) gak usah terlalu bawa banyak barang. Aku juga bawa tas lipat cadangan, jaga-jaga kalau tas gak muat karena khilaf belanja. Usahakan 1 koper cukup untuk semua peralatan sehari-hari. Mulai dari baju dan perlengkapan lainnya. Untuk penerbangan internasional, kita gak boleh bawa cairan lebih dari 100ml. Untuk ngakalinnya kita bawa keperluan seperlunya aja. Misalnya untuk peralatan make up, aku hanya bawa tea tree set aku aja. Itu pun aku pindahin daily solutionnya ke botol yang sangat kecil. Pelembab dan BB cream di masukin ke dalam case softlens yang udah kosong. Bawa case softlens, cairan softlens seperlunya, pensil alis, lipstick dan eyeliner. Parfum juga bawa versi mini aja. Untuk perlengkapan mandi juga gitu. Odol dan sikat gigi yang jenis traveling, yang ukuran mini gitu. Sabun cuci muka di pindahin ke wadah sabun hotel yang mini juga. Sabun badan dan sampo, berharap aja disediain di penginapan. LOL.  Ransel berguna untuk masukin syal, makanan, charger, kamera, buku, pena (kita akan diminta mengisi blanko imigrasi di pesawat, jadi bawa pena sendiri aja) dan botol air minum kosong. Ingat! gak boleh bawa air lebih dari 100ml. Jadi cukup bawa botol kosong aja. Di bandara kuala lumpur ada banyak tap water buat ngisi air minum. Pun di Jepang, di bandara dan stasiun ada tap waternya. Bahkan ada yang air panas. Jadi bisa bikin popmie. Tas kecil berguna untuk tempat passport, kartu pass,wifi router, handphone dan uang. Kalau tasnya kecil banget kayak punya aku, dia masih muat nyempil di ransel. Jadi saat ribet dan mesti keluar masuk ngeliatin passport dan kartu pass, kita pake tas kecilnya. Pas keadaan aman, damai, masukin lagi tasnya ke ransel biar gak terlalu banyak tas yang ditenteng.
 Ranselnya cuma isi setengah, buat masukin tas kecil.


Dan satu lagi yang gak kalah pentingnya adalah pocket wifi. Di Indonesia, ada banyak travel agent yang nyewain pocket wifi. Di bandara Haneda juga ada penyewaan pocket wifinya. Setelah browsing, kami menjatuhkan hati pada penyewaan modem, wi2fly. Modemnya dikirim sehari sebelum berangkat dan diambil sama kurir sehari setelah berangkat. Kita tinggal tunggu di rumah aja. Iya, segampang itu. Review modemnya, ntar yah, diposting selanjutnya. Di paket modemnya, kita dikasih pinjem wifi router, kabel dan travel adapter. Colokan listrik di Jepang beda dengan Indonesia, kita jadi kudu bawa travel adapter. Karena kita berempat dan masing masing bawa gadget, kita bawa roll kabel mini yang muat buat 4 colokan. Jadi travel adapternya bakal disambung sama roll kabel, dan kami bisa ngecas bersama-sama tanpa perlu ngantri.



Keliatannya ribet yah, tapi kita nyiapin ini dengan suka cita. Jadi semuanya menyenangkan.