Feeds RSS
Feeds RSS

Sabtu, 23 Februari 2013

Kenyataan di Pasar Malam

Malam itu akhirnya aku memutuskan bertemu dengan June. June adalah mantan sahabatku. Sudah berulangkali ia menguhubungiku. Dia bilang ada sesuatu yang ingin dia katakan. Dia harus bertemu denganku. Dia berjanji menemuiku di bawah bianglala di pasar malam. 
Dibanding seperti dongeng, tempat ini lebih seperti mimpi buruk bagiku. Aku jadi teringat pada pacarku, Romi. Tempat ini tempat kencan favorit kami. Pun hotel di depan pasar malam ini. Mengingat semua tentangnya membuatku kembali terluka.
Sudah sekitar 2 jam dari waktu yang kami janjikan, dia tak juga datang. Aku mulai bosan.
"Maza...", suara memanggilku.
Aku menoleh. Tentu saja itu dia, June.
"Jadi apa yang ingin kau katakan? Kau sudah membuatku menunggu sangat lama"
"Aku tak tahu harus mulai darimana..",suaranya agak tersendat.
"Apa?", aku bertanya tak sabar.
"Soal yang waktu itu..", dia berkata takut-takut.
Aku menunggu kata-katanya yang keluar tersendat-sendat. Suara bising pasar malam, membuatku tak mendengar suaranya jelas.
"Ayo kita ke tempat yang lebih tenang", ajakku. June mengikutiku.
Kami tiba di cafe kecil di sudut pasar malam. 
"Jadi ceritakan padaku. Aku tak ingin bertele-tele lagi"
"Maza, kau ingat saat kecelakaan waktu itu?"
Aku termenung, mengingat kejadian setahun yang lalu. Waktu itu, aku dan teman-temanku pergi berlibur ke puncak. Mobil yang kami tumpangi tiba-tiba ditabrak dari belakang dan mobil kami terjerumus masuk ke jurang. Saat itu dalam keadaan setengah sadar dan tubuh penuh luka, aku melihat June dan Romi, pacarku. Mereka tersudut di ujung jurang. Aku menarik June yang waktu itu berada tak jauh dari tanganku. Aku berharap June juga dapat menarik Romi, tapi June diam saja. Berulang kali aku dan Romi memohon agar dia menarik Romi, tapi ia tak bergerak. Dia tak mau bukan tak bisa. Akhirnya dengan tubuh penuh luka, aku merayap menggapai Romi. Herannya, saat aku berhasil menggapai Romi, June malah menarikku. Romi yang tak bisa bertahan terjatuh ke jurang yang lebih dalam. Aku tak sanggup lagi mengingat kejadian berikutnya.
"Aku tak mau dengar tentang itu lagi", aku berdiri dan beranjak pergi. Kekesalanku kembali memuncak padanya.
"Maza.. Tunggu..", June menarik tanganku. "kau harus tahu alasanku dulu"
"Apa? Alasan apa yang membuatmu tak ingin menyelamatkan nyawa temanmu sendiri?", aku berteriak padanya. June tertunduk. 
"Aku takut kau menyentuhnya"
"Kenapa? Sudah kuduga. Kau pasti naksir dia kan? Kau pasti iri sama kami?", Kuluapkan semua kekesalanku.
"Kita terluka parah saat itu. Kita berdarah"
Aku meronta melepaskan tanganku dari gengamannya.
"kau bisa tertular"
Aku terdiam.
"Apa maksudmu?"
"Dia mengidap HIV-AIDS"
Seketika aku terdiam. Aku pasti sudah tertular.

Sabtu, 09 Februari 2013

Kekasihku dulu

Kekasihku dulu adalah orang yang periang. Dia sering menceritakan cerita-cerita lucu padaku. Aku selalu tertawa dibuatnya. Pernah suatu hari, saat aku datang padanya dengan menangis karena kehilangan kartu ATM, dia hanya memelukku, dan membiarkanku tersedu sedan. Saat aku selesai menangis, dia tersenyum dan menceritakan hal lucu padaku. Aku jadi tak peduli lagi pada kartu ATM-ku. Tentu saja setelah itu dia membantuku mengurus kartu ATM-ku yang hilang. Pokoknya dia luar biasa. Aku sangat menyayanginya.
Kekasihku itu juga seorang pekerja keras. Beberapa hari sebelum hari ulang tahunku, temannya kecurian. Dia yang baik hati meminjamkan uangnya pada temannya. Saat sadar kalau dia belum membeli kado untuk ulang tahunku, dia bekerja sambilan di sebuah toko roti. Hanya untuk kadoku saja. Bagaimana aku bisa tak mencintainya?
Sayang, itu dulu. Kekasihku sudah pergi, sudah tiada. Aku benar-benar merindukannya. Seperti hari ini, aku terus menunggu di kedai kopi tempat kami terakhir bertemu. Aku berharap bisa memeluknya seperti dulu, mendengarkan semua leluconnya seperti dulu. Aku selalu menyimpan fotonya di dompetku. Aku ingin melihatnya di setiap hariku. Aku juga menempelkan fotonya di meja di sebelah tempat tidurku. Agar aku bisa melihatnya di bangun pagiku, dan di malam sebelum tidurku. Mengingat semua tentangnya membuatku menitikkan air mata. Ah, sayangku, kenapa kau begitu cepat meninggalkanku.
"Emil!",suara yang sama yang sering kudengar.
"Siapa kau?"
"Aku pacarmu, ayo kita pulang!"
"Pacarku sudah tiada"
"Berhentilah memperlakukanku seperti aku sudah mati", bentaknya kasar.

Selasa, 05 Februari 2013

yudisium, pelantikan, wisuda, apa bedanya?

Agak tergelitik ngebahas ini karena udah berulang kali ditanya sama orang-orang di sekitar aku. Berhubung sebentar lagi melepaskan status mahasiswa pre klinik, banyak orang-orang yang sering nanya. Jadi, kali ini aku coba jawab pertanyaan-pertanyaan yang paling sering ditanyain sama aku, sepengetahuan aku aja yah.

Q: Kuliah dimana?
A: FK, di Univ.X

Q: Kapan tamat?
A: Tamat kuliah bentar lagi, tamat koas mungkin 2 tahun lagi.

Q: Kapan jadi dokter?
A: Entar kalo udah tamat koas, udah lulus UKDI.

Q: Katanya mau wisuda, kapan?
A: Wisudanya bulan mei

Q: Loh, bukannya februari?
A: Yang februari itu yudisium sama pelantikan.

Q: Apa bedanya?
A: Yudisium pengumuman doang, pelantikan itu peresmian gelarnya dari fakultas.

Q: Jadi yudisium sama pelantikan bareng?
A: Enggak. Yudisium tanggal 7, pelantikan tanggal 13.

Q: Yudisium sama pelantikan udah pake toga?
A: kagak. Yudisium baju biasa kayaknya. Pelantikan pake kebaya buat yang cewek.

Q: Dari bulan februari sampe mei ngapain? nungguin wisuda?
A: Masuk stase koas

Q: Kok koas duluan? jadi masuk koas belum wisuda?
A: Yak, betul!

Q: Koasnya berapa lama?
A: kurang lebih 2 tahun.

Q: Koas itu apa?
A: grrrrr... *ngunyah daun pepaya*

Q: Kalo udah di wisuda gelarnya apa?
A: S.Ked

Q: Apa itu?
A: Sarjana Kedokteran

Q: Emang ada?
A: *kemudian nangis di pojokan*

Q: Jadi ntar pas wisuda gelarnya bukan dr?
A: Bukaaan! Itu entar, kalo udah selesai koas. *Garuk-garuk muka yang nanya*

Q: Oke, oke. Udah ada pendamping wisuda?
A: *end chat*

Senin, 04 Februari 2013

jangan lihat aku!

Kemarin sore, aku mengalami kecelakaan kecil. Kaki kananku ditabrak, diserempet, atau apapun namanya oleh mobil putih berkecepatan tinggi. Kalau saja aku gak noleh dan liat kaki aku yang berlumuran darah dengan jari-jari yang dislokasi, aku gak akan sadar dan tetap pergi ke gramed sama adek. Yang buat aku menangis sejadi-jadinya adalah bentuk kakiku yang hancur. Padahal sebentar lagi pelantikan, aku mau beli sepatu cantik. Dengan kaki begitu, mana mungkin bisa pakai sepatu. Aku yakin pasti salah-satu jarinya patah. Bibiku yang lihat pertama kali waktu aku nyampe rumah juga bilang gitu, bikin aku tambah panik. Ditambah ayuk yang gampang panik, teriak-teriak manggil bapak yang lagi maen sama regan di depan rumah. Dan dalam sekejap, rumah dipenuhi tetangga yang datang melihat kaki hancurku. Perih. Aku gak ingin dilihat dalam kondisi kacau begini. 
Itu pertama kalinya aku merasa sakit yang luar biasa. Aku menangis berteriak minta analgesik, minta dirontgen, minta dibius. Kacau. Aku gak pernah sekacau itu. Gak pernah juga nangis sekenceng itu. Habislah imageku di mata semua tetanggaku. AKu betul-betul tampak seperti makhluk lemah. Aku tidak suka. Beberapa tetangga manggil tukang urut. Sore itu, dalam hitungan menit saja sudah ad 2 tukang urut yang datang ke rumah. Tukang urut yang pertama datang, takut ada bagian yang patah, dan lagi darahnya masih mengalir. Akhirnya datang satu orang lagi. Rasanya luaaaar biasaa sakiiiit. Ayuk dan mama bergantian memelukku. Bapak dan beberapa tetangga memegangi kakiku yang meronta-ronta. 
Selesai perkara urut mengurut. Kakiku bengkak, biru dan gak cantik. Tara yang memang berjanji menginap malam itu datang. Masih banyak hal yang harus kami urus, untuk daftar pelantikan dan wisuda, jadi mau tak mau aku harus pergi. Aku gak suka merepotkan sebenarnya, tapi seharian ini aku terus-terusan merepotkan tara. Dan yang aling aku gak suka, tatapan orang-orang.
Pertama saat aku di Indralaya. Saat masuk perpustakaan untuk menyerahkan skripsi, aku berjalan dengan tertatih dan sedikit pincang menaiki tangga. Dua orang bapak-bapak berkomentar di belakangku. Melihatku kasihan dan bilang hati-hati padaku. Mereka bersimpati. Aku terima, tapi tak suka. Mereka seperti melihatku kasihan.
Lalu sepulangnya, aku diturunkan Tara di kost tara untuk beristirahat dulu. Tara memang malaikat. Aku tau tara sangat peduli, tapi aku tak mau merepotkan. Dan aku tak suka apa yang aku lakukan tadi. Kelihatan lemah. 
Saat makan siang tadi juga begitu. Baru beberapa langkah aku mask restoran, orang-orang langsung melihat aku. Melihat kakiku. Ada yang salah dengan orang pincang? Aku tak suka pandangan itu. Jangan kasihani aku! Aku jadi berpikir, jangan-jangan selama ini aku juga sering memperhatikan orang-orang dengan kekurangan fisik di dekatku. Aku jadi mengerti perasaan mereka. Maaf yah. Aku jadi banyak belajar. Terima kasih, ya Allah. :) 

Sabtu, 02 Februari 2013

Puisi-puisi masa muda

Lagi sibuk-sibuknya ngebongkar isi lappy kemarin malah nemu folder puisi-puisi jadul. Lucu, gak jelas maksudnya apa. Tersiratnya agak parah. Nih salah satunya yang paling panjang. Ini puisi atau cerpen? LOL!


Bunga
aku adalah bunga
baru saja kemarin aku mekar
aku hidup
menghirup udara yang segar
menikmati setiap inchi pemandangan di hadapanku
aku begitu bahagia
semua yang ada membuatku bahagia
juga sahabatku, si kupu-kupu
kemarin ia masih seekor ulat gendut dan bertotol
ia menghabiskan semua daunku
dia rakus sekali
tapi aku tahu dia butuh itu
aku rela memberinya seluruh daunku
kini  ia telah menjadi kupu-kupu yang cantik
aku juga cantik
karena aku adalah bunga

ini hari yang indah
aku bisa melihat seluruh taman dari sini
ini tempat yang paling tepat untuk menikmatinya
sahabatku kupu-kupu menghampiriku
menanyakan hariku
dan kubuka kelopakku
memberinya hadiah untuk semua perhatiannya
ia tersenyum dan perlahan menghirup nektarku
aku bahagia
saat berbagi dengannya aku bahagia
ia terbang lagi
kutatap sayapnya yang indah
dan kembali memandangi taman yang indah ini
kupu-kupu kembali lagi
membawakanku segudang cerita
mengabarkanku tentang kelahiran laba-laba di kamar 346
menyampaikan padaku tentang kecelakaan di jalan flamboyan
menceritakan kisah cinta Romi dan Julie di sekolah
memberitahukanku tentang penerimaan mahasiswa
semuanya
aku bahagia mendengar semuanya
aku bahagia
kupu-kupu pergi lagi
dan berjanji akan membawakanku cerita lagi
aku melambai padanya
aku tetap disini
di taman ini
karena aku adalah bunga

biar aku tak bisa terbang aku masih bisa bahagia
ada banyak hal yang masih bisa kulakukan
memandangi taman
berfotosintesis
dan...
apalagi?
mungkin aku lupa
tapi aku bahagia
seekor kumbang yang tampan terbang rendah
aku tersenyum
hanya tersenyum
ia menghampiriku
wajahnya tampan dan membuatku nyaman
ia memuji kecantikan setiap kelopakku
wajahku bersemu merah
perlahan kubuka kelopakku
tak salah jika kuberi ia sedikit maduku
ia tersenyum
manis, manis sekali
ku persilahkan ia menghisap nektarku
aku rela dan aku bahagia
aku merasa tenang
tapi perlahan aku merasa aneh
kumbang tak berhenti menghisap maduku
apa yang akan kuberikan pada kupu-kupu jika ia kembali nanti?
aku tak kuasa menolak kumbang
ia tak berhenti
perlahan kututup kelopakku
gerakanku lemah nektarku habis
ia menatapku marah
aku tak berdaya
tubuhku lemas
ia pergi meninggalkanku
aku ingin mengejarnya dan memberitahunya apa yang terjadi
tapi aku tak bisa
karena aku adalah bunga

aku tak lagi bisa menikmati pemandangan
pikiranku kalut
aku takut
takut jika nanti kupu-kupu datang dan tak ada yang bisa kuberikan untuknya
aku bingung
bingung bagaimana menjelaskan pada kumbang
aku rela maduku habis
tapi aku tak rela mereka pergi
aku cemas
semuanya begitu gelap
mengapa aku tak bisa terbang bebas
seperti kumbang dan kupu-kupu
aku juga ingin menyaksikan setiap kejadian
aku juga ingin bermain-main di udara
aku juga ingin merasakan manisnya maduku
aku juga ingin pergi dari sini
seperti kumbang dan kupu-kupu
tapi aku tak bisa dan tak akan pernah bisa
karena aku adalah bunga

masih dalam kegelisahanku
kupu-kupu datang menghampiriku
ia tersenyum padaku
aku terlalu lemah untuk membalas senyumnya
ia mulai bercerita padaku
untuk pertama kalinya aku tak ingin mendengarkan ceritanya
ia tetap saja bersemangat bercerita
aku tak ingin membuatnya kecewa
kudengarkan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya
ia tampak bahagia
ia tampak begitu cantik
ia punya apa yang tak kupunya
ia punya sepasang sayap yang begitu indah
tapi aku tidak
ia menatapku
aku membuka kelopakku
yang kutahu tak ada lagi madu di dalamnya
ia menatapku kecewa
dan pergi meninggalkanku
aku tak bisa mengejarnya
aku tak bisa
aku tak bisa menjadi seperti dirinya
aku tak bisa
sekalipun air mataku terus menetes berharap ia mengerti
sekalipun aku menjerit ingin bebas
sekalipun aku menarik seluruh akarku untuk mengejarnya
aku tak bisa
aku tak bisa
karena aku adalah bunga

aku terima segala kekuranganku
aku mencoba tersenyum
mungkin untuk yang terakhir
dahanku tak mampu lagi menopangku
kelopakku berkerut
warnanya tak lagi cerah
aku layu
benar-benar layu
tanpa kutahu rasanya
aku telah hilang
hilang di tangan jahil yang mencabikku dengan kasar
menjawab segala asaku
kini aku bukan bunga
aku tak lagi cantik
aku tak lebih dari seonggok sampah
terkapar tak berdaya dan akan berakhir di tanah
masih samar ku buka sedikit mataku
kumbang dan kupu-kupu menari diatasku
tersenyum
tersenyum padaku
berusaha menyapaku
maaf
aku bukan bunga lagi

hello februari!

Hello, feb!
Hows ur day? is evrything ok? mine, not really good. :')

Boneka kucing bilang, "gak bagus banyak mengeluh. Gak bagus juga banyak menyesal. Lebih baik lihat ke depan, kalau di depan masih belum jelas, lihat ke sekeliling". Aku suka kata-katanya. 
Jadi di awal februari yang sibuk ini, aku sudah menyelesaikan sesuatu yang kusebut skripsweet. yang sebulan kemarin ku panggil skripshit, yang ku sapa skripsi di 2 bulan sebelumnya. Aku sudah bisa dengan bangga menyebut diriku mahasiswa dong yah? Bukan mahasiswa namanya kalau belum ngerasain bikin skripsi. Apalagi dengan perjuangan yang lumayan menguras tenaga, uang jajan, waktu kencan, pikiran dan mental.Untung semuanya berakhir. Penantian panjang banget kayaknya. Yahsudahlah perkara skripsi, perkara pelantikan dan toga, aku sudah muak bosan. 
Sudah beberapa malam ini gak bertemu boneka kucingku yang bijaksana, jadi malam ini aku mengobrol sedikit dengannya tentang februari. Percakapan singkat kami yang biasa sebelum tidur.
"Bagaimana januari ini kamu habiskan?", tanya si kucing yang bermalas-malasn di sebelahku.
"Luar biasa. Semuanya begitu berharga. Pelajaran-pelajaran yang tak terlupakan. Yah, aku juga sedikit lelah"
"Kapan terakhir kali kau tidur normal?"
"Normal menurutmu, normal menurutku atau normal menurut mereka?"
"Menurutku normal itu tidur 8 jam sehari, mungkin menurut mereka juga sama"
"Hmm, normal menurutku, 4 jam tidur pagi, 3 jam tidur siang"
"Katakan menurutku saja", kata boneka kucingku yang kesal aku permainkan. Jarang aku bisa mempermainkannya seperti ini.
"Kalau begitu sekitar 2 bulan yang lalu, sebelum mulai penelitian"
"Kau lelah?"
"Tidak, hanya punggung yang sakit karena tidur di sofa beberapa hari ini"
"Januarimu luar biasa, soal yang kemarin kau katakan di awal januari, aku ingin..."
"Bisakah kita bicarakan tentang februari sekarang?", aku malas berdebat tentang hal yang itu-itu saja.
"Baiklah, apa yang akan kau lakukan februari ini?"
"Yudisium, pelantikan, masuk stase..."
"Resolusimu?"
"Klise. Menjadi lebih baik dari sebelumnya"
"Mau saran?"
"Tidak sekarang. Tanya aku lagi"
"Apa yang ingin kau capai?"
"Klise. Semua yang belum aku capai"
"Termasuk yang itu? Soal melupakan orang yang tak ingin dilupakan yang telah melupakan tapi tak bisa lupa?"
"Mungkin. Semakin ingin dilupakan jadi semakin ingat"
"Benar. Sulit!"
"Hentikan bicara soal januari, ini tentanga februari. Dan berhenti membuatku jadi susah lupa"
"Mau saran sekarang?"
"Kalau ini tentang februariku, ya!"
"Oke. Kusarankan.. Kau gunakan kunci yang kemarin aku berikan"
Aku tersenyum. Selalu kalah dengan omong kosong dari boneka kucingku ini.
"Bagaimana jadinya februariku nanti?", aku berkata menerwang.
"Seperti yang kau pikirkan", bisiknya.