Feeds RSS
Feeds RSS

Sabtu, 07 September 2013

Balon di tangan Naya

Naya duduk di samping rumahnya. Sudah lewat tengah malam, tapi ia tak juga masuk ke rumah. Bahkan lampu di rumahnya pun tak juga dihidupkan. Naya juga tak bersuara, atau menangis, atau tertawa. Mungkin Naya sedang tak ingin diganggu. Padahal kemarin petang ia masih tertawa dengan sebuah balon di tangannya. Gadis kecil dengan badan kurus itu biasanya pergi mengaji sehabis Isya, tapi ba’da isya tadi, Naya juga tak datang.  
 “Pak Nasrul!”, teriak Udin kepada Nasrul yang sedang duduk menyesap kopi di pangkalan ojek.
“Ada apa, din? Ada apa?”, Nasrul terperanjat saat namanya dipanggil.
“Atik kemarin ke rumah bapak. Mungkin bertengkar sama istri bapak. Ah, pasti bertengkar yah”
“Kenapa kasih tau sekarang?”
“Kau tak pulang lagi, rul?”, tanya Azwan, sesama tukang ojek.
“Ah, sudah mau kucerai dia!”
“Nanti saja pak. Pulang saja sekarang. Ini tentang Naya”, potong Udin.
Nasrul berlari tergopoh. Rumahnya sudah ramai saat ia tiba. Lalu, ia jatuh terduduk di dekat Naya. Naya yang memegang balon dengan kepala mendongak ke atas dan leher nyaris putus


0 komentar:

Posting Komentar