Feeds RSS
Feeds RSS

Selasa, 10 September 2013

Terukir di Bintang


"Sayang, bintang itu seperti apa?",tanya Aster padaku.
"Entahlah, mungkin dia seperti asteroid atau bulan. Aku bukan ahli astronomi, sayang"
"Nanti aku datangi bintang, biar aku bisa kasih tau kamu yah", senyumnya manis. Manis sekali.
"Jangan! jangan pergi ke bintang sayang", kecupku.
"Biar saja sayang. Aku ingin kesana mengukir namamu"
Lalu hingga malam itu selesai, ku dekap ia yang manis di sisiku.
***
Masih belum berhenti isakku saat ia datang. Ia adalah orang yang paling kubenci. Sudah ribuan rencana licik kupersiapkan untuk membunuhnya.Ia menambah sesak di dadaku karena kehilangan Aster. Aku yakin dia pasti ada di balik kematian Aster.
"Sudahlah kau ratapi gadis itu!", katanya kasar.
"Berhentilah meratap, bodoh! Dia sudah di bintang!", ia tertawa mengejek.
Aku diam, mengutukinya dalam hati. Aster mungkin memang sudah di bintang, mengukir namaku seperti yang ia janjikan. Tapi aku tak akan bisa rela.
"Hei!", Lelaki itu menarikku kasar.
Aku meninjunya dengan segala kekuatanku.
"Kau ini wanita gila!", ia balik menamparku.
"Memang, salah sendiri menikahiku", kataku sambil mengambil pisau di dekatnya dan menusuknya tepat di jantung.
"Sampaikan salamku, saat sampai di bintang"


0 komentar:

Posting Komentar