Feeds RSS
Feeds RSS

Kamis, 03 Januari 2013

FF: untitled

"Jadi sayang, kapan kamu bilang sama pacarmu kalo kita balikan?", aku menyerbunya dengan pertanyaan yang sama.
"Nanti sayang, kan aku sudah bilang, gak mungkin aku mutusin dia sekarang.", dia beralasan. Alasan yang kudengar berkali-kali.
"Aku gak mau jadi simpanan. Kamu itu dari dulu punya aku. Dia itu yang datang tiba-tiba.", aku mulai kesal.
"Kamu yang mutusin aku", katanya singkat.
"Terus kenapa kamu jadian sama dia? Kamu bilang masih sayang sama aku", aku berkata setengah berteriak.
"Aku gak salah dong. Aku diputusin kamu, terus dia datang, terus kita jadian", jelasnya.
"Kamu gak sayang aku lagi?", kali ini aku menatap matanya.
"Sayang, kamu kan yang bilang cewek punya perasaan..."
"Kamu tuh yah! Sengaja gak mau mutusin pacar kamu, sengaja biar aku sakit hati, ya kan?", aku meninggalkannya kesal. Ia berlari kecil menangkap tanganku.
"Sayang, kamu bilang kamu gak bakal egois lagi. Tunggu sampe aku ketemu waktu yang pas", ia menatapku dalam. Aku bisa membaca keseriusan di matanya.
"Sampai minggu ini!", bisikku.
"Apa?"
"Kalau kamu nggak mutusin dia, kita aja putus lagi", kulepaskan tanganku dari genggamannya.
"Aku pulang duluan", aku melangkah meninggalkannya.
Ia masih berdiri di sana, melihatku dari kejauhan sampai aku lihat seorang wanita mendekatinya. Pacarnya tentu saja. Aku kembali berjalan ke arahnnya. Ia tampak gugup. Aku duduk di bangku di sebelah mereka.
"Sayang, aku kira kamu masih di luar kota", kata perempuan itu terdengar menjijikkan di telingaku.
"Aku sudah pulang semalam. Maaf belum kasih kabar", ia berkata dengan gugup.
"Gak papa sayang. Kamu lagi apa disini?", tanya perempuan itu lagi sambil menggandeng tangannya. Aku panas.
"Aku cuma lagi jalan-jalan", jawabnya seadanya.
"Baguslah, aku juga sayang. Hei, kau bau rokok sayang", kata perempuan itu saat ia menempelkan kepalanya di bahu lelakiku.
Bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau ia habis merokok? Rasanya aku ingin mencubit pipinya dan memeriksa semua kantongnya. Tentu saja untuk membuang rokok yang tersisa. Aku tidak suka ia merokok.
"Ah, iya. Sebatang saja", katanya sekilas melirik ke arahku.
"Gak papa, kamu lagi latian berhenti merokok kan sayang?"
"Eh, iya"
"Dan lihat rambutmu sayang. Sudah berantakan"
"Kau ingin aku merapikannya?", tanyanya seolah berkata padaku.
"Hahaha, tentu tidak sayang. Aku mencintaimu apa adanya"
Klise. Aku mulai risih, tapi tak mau beranjak jauh-jauh dari mereka.
"Oh, ya. Soal acara ulang tahunku, aku mau kamu datang. Aku mau kenalkan pacarku yang luar biasa ini pada teman-temanku", katanya lagi.
"Tentu"
"Dan hari minggu besok, kau boleh datang ke rumahku sayang. Aku akan memasak untukmu", katanya manja.
"Ke rumahmu? tak apa? Aku harus bagaimana?"
"hahahha, tentu sayang, jadilah dirimu sendiri"
Aku diam. Aku tak sanggup menoleh ke arah mereka lagi. Aku tahu kenapa ia kesulitan sekarang. Aku jadi merasa hina. Aku yang selalu egois. Aku yang suka mengatur semua hidupnya. Aku belum berubah. Kali ini aku akan menyerah saja. Aku tersenyum dan bangkit dari tempat dudukku.
"Sayang, kita putus saja. Kau sudah bersama orang yang tepat", kukirim pesan singkat padanya.

3 komentar:

Benagustian mengatakan...

kita putus aja lagi [bisa ya putus dua kali haha]
kalau tali jemuran sih gampang ya nyambunginnya
tapi kalau perasaan? masa iya kayak tali jemuran? bisa jadi kayak tali layangan putus layangannya hilang haha

Rie Rie mengatakan...

cerpenkah? kereenn...

duileonita mengatakan...

@benagustian : bisa dong, jadian aja bisa berulang kali, putus juga bisa :P

@rie-rie : hehe, makasih mbak :)

Posting Komentar