Feeds RSS
Feeds RSS

Rabu, 02 Januari 2013

Interview tentang Hati


A friend of mine ever asked me, "why are you still single?"
And I told him, "I've been falling in love with someone for a long time. And, I don't think we could be together, and when I have brave enough to face it with him, he left me"
And he said: "why don't you open your heart to other guy?"
"I don't brave enough"
"then, you must brave enough to take him back or forget him"
"I will," I said.


Temanku bertanya,"Apa yang membuatmu begitu menginginkannya?"
Aku hanya tersenyum dan berkata,"Alasannya sama seperti saat kau begitu menginginkan air saat kau haus"
Ia tertawa dan balik bertanya lagi,"Kalau aku haus, aku tidak akan pilih-pilih air untukku minum"
Aku berpikir sejenak. 
"Tapi hanya dia yang tampak seperti air saat aku kehausan"

"Apa yang akan kau lakukan untuk airmu?", dia bertanya lagi.
"Aku..Aku akan mendapatkannya"
"Kau optimis dan pesimis di satu waktu. Bagaimana cara kau mendapatkannya?"
"Aku..Aku tidak tahu caranya, tapi itu terdengar masuk akal, maka aku akan mendapatkannya."
"Apa yang sudah kau lakukan?
"Aku.. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya berharap aku mendapatkannya. Aku.. Aku hanya takut."
"Apa yang kau takutkan?"
"Kau tahu. Saat kita sangat ingin menggenggam air, tak ada yang akan kita dapatkan."
"Air-mu itu mungkin sudah pergi jauh, tapi hujan akan membawanya kembali"
"Sekarang hujan."
"Dan mungkin dia akan kembali"
Aku tersenyum dengan harapan.

"Mengapa kau begitu sedih?", tanyanya di lain waktu.
"Aku menyerah saja"
"Kenapa? Airmu tak kunjung datang?"
"Iya, mungkin sudah diminum orang lain"
"Kusarankan kau untuk mencoba jus, susu, teh atau kopi"

Kali ini aku yang bertanya pada temanku yang bijaksana.
"Apakah aku masih boleh menunggu?"
"Ya, jika kemungkinannya masih ada, dan tidak jika kemungkinannya 0%..."
"Aku rasa kemungkinannya masih ada sedikit"
"Dan jika menunggu itu tidak membuatmu sakit.."
"aku tidak sakit."
"Kau sudah cukup berani ternyata"
"iya, menunggu tidak sakit, tapi melihat airku di botol air minum orang lain, sakit"
Temanku tersenyum.
"Aku akan buatkan teh hangat untukmu", katanya lagi.

Aku dan temanku minum teh sambil menikmati hujan. Ia bertanya lagi.
"Orang yang kemarin, kenapa kau tak suka?"
"Aku tak bilang tak suka. Aku cuma tak menginginkannya. Seperti aku tidak suka minum air soda"
"Kenapa?"
"Hanya tidak cocok denganku"
"Kalau kau sangat haus kau mau meminumnya?"
"Mungkin. Tapi aku tetap saja tidak suka. Seperti saat aku harus minum obat."

"Satu pertanyaan terakhir", kata temanku yang cerewet itu.
"Apapun"
"Saat air yang kau inginkan, yang sekarang ada di dalam botol air minum orang lain, terjatuh dan tumpah ke tanah, apa yang akan kau lakukan?"
"hmmm.. agak sulit kalau ia diibaratkan air karena mungkin ia akan cepat meresap ke tanah atau mungkin akan tercampur dengan debu. tapi aku akan tetap berusaha mendapatkannya kembali dan memastikan ia masuk ke dalam botol air minumku"
"ibaratkan ia sebagai manusia"
"hahaha", aku tertawa. "Aku akan datang padanya, mengobati lukanya dari rasa dicampakkan, membersihkan dia dari bekas orang lain yang pernah memilikinya, dan berjanji tidak akan meninggalkannya"
"Terdengar cukup berani. Tetaplah bermimpi boneka kecil"
"Tidak, aku akan melakukannya. Kau saja yang bermimpi boneka kucingku sayang", senyumku sambil memeluknya.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

i do love this story

Posting Komentar